"Rel-rel baja mebelah utara Jawa, bukan hanya mengangkut gula, tembakau, dan hasil bumi, tetapi juga ide, manusia, dan perubahan.
Surabaya dulu adalah kota pelabuhan kencang geliatnya. Dari arah barat, kereta-kereta datang membawa pedagang, tentara, pegawai pemerintah, dan kaum pergerakan. Di peron Stasiun Pasar Turi, percakapan dalam bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam riuh rendah zaman kala itu,"ujar Maskot dan Atjie menimpali.
Indonesia merdeka 1945, stasiun Pasar Turi ikut menjadi saksi pergolakan. Malah rel kereta saat itu tidak lagi sekadar jalur distribusi kolonial, melainkan infrastruktur strategis republik berusia belia.
Yakin anak bangsa bisa mengoperasikan Moda angkutan ini, kereta api pun di-nasionalisasi-kan, Kereta Api memasuki babak baru. Stasiun Pasar Turi tetap berdiri, kini dalam genggaman bangsa sendiri.
Memasuki era modern, wajahnya berubah. Lokomotif uap digantikan diesel dan listrik. Tiket kertas berganti digital.
"Satu yang pasti denyut dan getaran rel bajanya tidak pernah sunyi. Meski potret stasiun telah 180 derajat berubah, dari kesemrawutan, kini sudah tertata apik dan rapi, stasiun ini menjanjikan kenyamanan, senyaman melajunya Sembrani Luxery class,"ujar Toaik.
Peta rute kereta api yang jadikan Turi terminal terakhir bagi kereta-kereta api lintas utara, kereta berangkat lagi secara on time, menuju Jakarta, Cirebon, Semarang, menghubungkan kota-kota besar di jalur paling sibuk Pulau Jawa.Jika Stasiun Gubeng dikenal sebagai gerbang timur dan selatan, maka the last station Surabaya Pasar Turi adalah nadi barat Surabaya.
"Di sinilah pertemuan sejarah dan masa depan, tempat legenda kaum perindu dan jadi perpisahan, tempat menabur harapan diberangkatkan dan cerita-cerita dipulangkan.
Stasiun Turi tak hanya jejeran rel. Stasiun ini adalah panggung panjang perjalanan Indonesia yang terus bergerak, seirama derak roda baja di atas relnya,"ujar Kaje. (***)
Editor : Editor