Padang, - Mudik Idulfitri 1447 H di Sumatera Barat menghadirkan fenomena baru di sektor transportasi. Di satu sisi, lonjakan penumpang kereta api meningkat tajam. Namun di sisi lain, bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) justru mengalami penurunan drastis.
Perubahan ini terlihat jelas sejak H 1 hingga H 5 Lebaran 2026. Stasiun kereta api di Padang dipadati antrean panjang. Masyarakat berburu tiket murah yang ditawarkan kereta api subsidi. Sebaliknya, pangkalan bus AKDP menuju Pariaman, Padang Panjang, hingga Bukittinggi tampak lengang.
Fenomena ini dipicu oleh kehadiran kereta api perintis dan lokal seperti KA Sibinuang dan KA Minangkabau Ekspres. Kedua layanan ini menawarkan tarif yang jauh lebih murah berkat subsidi pemerintah. Akibatnya, masyarakat beralih ke moda transportasi rel yang dinilai lebih hemat dan efisien.
Sopir PO Alisma rute Padang–Pariaman, Bagindo Ali Asyar, mengungkapkan kondisi ini semakin menekan pelaku usaha transportasi darat.
“Bagi masyarakat, ini efisiensi. Namun bagi bus AKDP, ini seperti lonceng kematian. Selisih harga terlalu jauh, sehingga daya saing kami hilang,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Selain itu, ia menegaskan bahwa persaingan saat ini tidak lagi berjalan seimbang. Tarif murah dari kereta api membuat bus kehilangan penumpang secara signifikan, terutama saat momentum mudik Lebaran yang biasanya menjadi puncak pendapatan.Lebih lanjut, kondisi di lapangan menunjukkan kontras yang tajam. Deretan bus terlihat terparkir tanpa aktivitas. Sopir hanya menunggu dengan harapan penumpang datang, namun kursi tetap kosong.
Padahal, setiap tahun, periode Lebaran selalu menjadi “panen raya” bagi sektor transportasi darat. Kini, kondisi tersebut berubah drastis. Peralihan penumpang ke kereta api membuat pendapatan sopir dan pengusaha bus menurun tajam.
Di sisi lain, kehadiran transportasi murah berbasis subsidi memang menjadi langkah positif dalam meningkatkan mobilitas masyarakat. Namun demikian, dampaknya terhadap sektor lain tidak bisa diabaikan.
Jika tren ini terus berlanjut, maka potensi penurunan usaha bus AKDP bisa semakin dalam. Bahkan, bukan tidak mungkin sebagian pelaku usaha terpaksa menghentikan operasional.
Editor : Editor