Lebih lanjut, ia mengapresiasi capaian SMAN 96 Jakarta yang dinilai sudah berada di tahap menjelang predikat informatif dalam hasil E-Monev. Ia optimistis sekolah tersebut dapat segera meraih predikat tertinggi tersebut.
"Kita lihat nilainya sudah di ujung menuju informatif. Tinggal sedikit lagi untuk mencapainya. Ini butuh komitmen pimpinan dan konsistensi," katanya.
Harry juga menyinggung pentingnya kesiapan badan publik menghadapi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak atas informasi. Jika tidak siap, potensi sengketa informasi akan meningkat. Ia pun mengingatkan peran kunci Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) beserta ketersediaan Daftar Informasi Publik (DIP) dan Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIK).
"Kuncinya dua: DIP dan informasi yang dikecualikan. Kalau itu sudah jelas, sekolah tidak akan bingung melayani permintaan informasi. Mekanisme harus jelas melalui PPID, mengingat tidak semua pihak yang meminta informasi memiliki tujuan murni," tegasnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 96 Jakarta, Titin Novianti, menyampaikan komitmen pihaknya untuk terus menerapkan keterbukaan informasi publik, termasuk melalui digitalisasi layanan di berbagai bidang."Alhamdulillah, kami sudah berupaya transparan dalam menyampaikan informasi, baik di bidang akademik, kesiswaan, maupun sarana prasarana. Kami juga terus berbenah menuju predikat informatif," ujarnya.
Kegiatan visitasi ini turut dihadiri jajaran KIP DKI Jakarta serta perwakilan Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Barat, Amsir. (***)
Editor : Editor

