Tugu Karih Sakati Muno berdiri di Kapalo Koto, Jorong Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Luhak Nan Tuo, Kabupaten Tanah Datar sebuah kawasan yang dalam tambo Minangkabau dikenal sebagai pusat awal tumbuhnya adat, nagari, dan peradaban Alam Minangkabau.
Luhak Nan Tuo bukan sekadar wilayah geografis. Ia adalah jantung Minangkabau, tempat adat diwariskan, tambo dituturkan, dan marwah Melayu-Minangkabau ditegakkan dari generasi ke generasi.
Dari ranah inilah lahir sistem penghulu, balairung adat, musyawarah nagari, serta nilai kehidupan yang kemudian menyebar ke seluruh rantau Melayu.
Peletakan batu pertama tugu ini dilaksanakan pada tanggal 18 April 2025 oleh DR. H. Oesman Sapta Dt. Bandaro Sutan Nan Kayo, Ketua Umum Gebu Minang, bersama Ir. H. Shadiq Pasadigoe, Anggota DPR RI sekaligus Bupati Tanah Datar periode 2005–2015, serta Eka Putra, SE, MM, Bupati Tanah Datar.
Tugu ini dibangun bukan hanya sebagai monumen fisik, melainkan sebagai simbol kesetiaan, keyakinan, keberanian, dan perjuangan menjaga marwah adat dan peradaban Melayu-Minangkabau.
Dalam tambo lama dikisahkan, pada masa dahulu datang seorang makhluk jahat dari negeri seberang ke kawasan ini. Karena tubuhnya besar dan tinggi bagai raksasa, ia dikenal dengan nama Sikati Muno.
Dalam cerita rakyat, ia digambarkan sebagai naga ganas yang konon keluar dari kawah Gunung Marapi.Kehadirannya membawa ketakutan besar.
Kampung-kampung dihancurkan, sawah dan ladang dirusak, serta banyak rakyat menjadi korban keganasannya. Rakyat hidup dalam kecemasan dan penderitaan yang berkepanjangan.
Keempat penghulu dari Pariangan Padang Panjang kemudian diutus menghadap Sang Sapurba di Batu Gadang untuk menyampaikan kekacauan yang ditimbulkan oleh Sikati Muno.
Editor : Editor

