Demi menjaga kehormatan dan martabat Alam Minangkabau, Sang Sapurba turun langsung menghadapi naga tersebut. Pertarungan besar berlangsung berhari-hari. Pedang Sang Sapurba bahkan dikisahkan menjadi sumbing hingga seratus sembilan puluh kali.
Namun pada akhirnya, Sikati Muno berhasil dikalahkan dengan sebilah keris pusaka bernama Curak Simandang Giri.
Sejak peristiwa itu, keris tersebut lebih dikenal dengan nama Karih Sikati Muno—keris bertuah yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa, sebagaimana petitih Minangkabau:
“Tak kanai di ujuang pangka, jajak ditikam mati juo.”
Ungkapan ini mengandung makna mendalam: bahwa kejahatan sebesar apa pun pada akhirnya akan tumbang oleh kebenaran, keberanian, dan keteguhan hati.
Dalam perjalanan sejarah Minangkabau, kisah Karih Sikati Muno menjadi bagian penting dari tambo dan memori kolektif masyarakat adat. Hingga hari ini, keris Curak Simandang Giri diyakini masih tersimpan dan terpelihara di Istano Basa Pagaruyung—simbol kebesaran Alam Minangkabau sekaligus pusat penting peradaban Melayu di Asia.
Pagaruyung bukan hanya lambang kerajaan, tetapi simbol persatuan adat, pusat marwah budaya, dan penanda bahwa Minangkabau memiliki akar peradaban yang kuat dalam dunia Melayu.Dari Luhak Nan Tuo, adat berkembang. Dari Pagaruyung, marwah ditegakkan. Dari Minangkabau, nilai-nilai Melayu diwariskan ke dunia.
Karena itu, Tugu Karih Sakati Muno bukan sekadar penanda sejarah tentang sebuah keris atau legenda naga. Ia adalah pengingat bahwa peradaban hanya akan bertahan jika masyarakatnya menjaga adat, ilmu, kehormatan, dan persatuan.
Ia adalah simbol bahwa budaya Melayu-Minangkabau akan terus hidup melintasi zaman.
Editor : Editor

