Kemenkes Siagakan 51 BKK Cegah Hantavirus Masuk Indonesia, Pengawasan Bandara dan Pelabuhan Diperketat

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni. (Foto: Ist)
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni. (Foto: Ist)

Menurut Andi, kasus pada kapal pesiar tersebut merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan. Hingga kini, tipe tersebut belum pernah dilaporkan ditemukan di Indonesia, baik pada manusia maupun hewan pengerat seperti tikus.

Sementara itu, kasus hantavirus yang pernah ditemukan di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Jenis ini telah terdeteksi sejak 1991 dan berkaitan dengan strain Seoul virus yang umum ditemukan di kawasan Asia.

“Kami menegaskan bahwa HPS pada kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh strain Andes virus. Dalam sejumlah penelitian, virus ini memiliki potensi penularan antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan,” jelasnya.

Meski demikian, Andi memastikan hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah mengenai penularan antar-manusia untuk tipe HFRS yang ditemukan di Indonesia dan sejumlah negara Asia lainnya.

Kemenkes pun mengimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit zoonosis. Pemerintah juga meminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus liar, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala demam, gangguan pernapasan, atau keluhan kesehatan lain setelah bepergian dari luar negeri.

Langkah antisipasi ini menjadi bagian penting dari sistem pertahanan kesehatan nasional. Di tengah mobilitas global yang semakin tinggi, penguatan pengawasan di pintu masuk negara dinilai menjadi benteng awal mencegah masuknya virus berbahaya ke Indonesia. (***)

Editor : Editor
Banner Komintau - MenteriBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari BuruhBanner Rahmat Saleh - Pers
Bagikan

Berita Terkait
Terkini