Irsadinas menyebut peningkatan itu didukung manajemen panitia yang terbuka dan melibatkan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan.
“Kuncinya, kami harus memiliki manajemen yang terbuka. Semua saran masyarakat kami tampung dan dimusyawarahkan bersama. Struktur kerja juga dibuat jelas,” katanya.
Selain warga sekitar, arisan kurban di Musala Nurul Yakin juga diikuti warga dari luar lingkungan musala. Menurut Irsadinas, sistem kerja panitia yang solid membuat masyarakat semakin percaya untuk ikut bergabung.
“Untuk kawasan Tabing Banda Gadang, baik masjid maupun musala, sekarang kami termasuk yang terbesar,” ujarnya.
Peserta arisan kurban, Afrina, mengaku telah mengikuti program tersebut selama sekitar lima tahun karena sistem pembayaran dinilai ringan dan memudahkan masyarakat tetap bisa berkurban.
“Rp50 ribu per minggu lebih ringan dibanding bayar sekaligus,” katanya.
Ia juga menilai pengelolaan panitia berjalan baik dan transparan.“Pengelolaannya jelas dan laporan keuangannya terbuka,” ujarnya.
Sementara itu, warga penerima daging kurban, Yosnini, menilai pembagian daging di Musala Nurul Yakin berlangsung tertib dan merata.
“Pembagiannya tertib dan merata, jadi warga merasa nyaman,” katanya.
Editor : Editor