Perang Kamang Bukan Agenda Demokrasi Elektoral

rdam Imran, Penulis. (Foto: Ist)
rdam Imran, Penulis. (Foto: Ist)

Nilai utama yang diwariskan adalah keberanian moral, solidaritas sosial, dan kesediaan berkorban demi kepentingan bersama. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan melampaui batas-batas politik praktis.

Lebih jauh lagi, sejarah Perang Kamang juga mengajarkan bahwa persatuan jauh lebih penting daripada perebutan klaim sejarah. Pada tahun 1908 belum dikenal pembagian administratif Kamang Mudiak dan Kamang Hilia sebagaimana saat ini.

Oleh sebab itu, Perang Kamang adalah milik seluruh masyarakat Kamang dan masyarakat Minangkabau secara umum.

Menggunakan momentum peringatan perang untuk membangun sekat-sekat politik atau identitas justru bertentangan dengan semangat para pejuang yang dahulu berjuang bersama menghadapi kolonialisme.

Di tengah menguatnya politik transaksional dalam demokrasi modern, peringatan Perang Kamang justru perlu menjadi ruang refleksi kritis.

Kita perlu bertanya: apakah praktik politik hari ini masih sejalan dengan nilai pengorbanan para pendahulu? Apakah kekuasaan digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat atau sekadar menjadi arena transaksi elite?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Sejarah adalah cermin yang membantu kita menilai keadaan hari ini.

Peringatan Perang Kamang bukanlah kampanye politik, melainkan pengingat bahwa kekuasaan harus selalu berpihak kepada keadilan dan kepentingan masyarakat.

Oleh karena itu, peringatan Perang Kamang setiap 15 Juni harus dijaga sebagai ruang kebudayaan, ruang pendidikan publik, dan ruang penghormatan kepada para pahlawan rakyat. Biarkan sejarah tetap menjadi milik sejarah.

Jangan biarkan pengorbanan para pejuang direduksi menjadi komoditas demokrasi elektoral atau instrumen politik transaksional.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner JPS - BolaBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini