Kabinet Bayangan: Ketika Cahaya Kekuasaan Justru Melahirkan Bayangannya Sendiri

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Oleh: Herry Sugarey

Ada satu hukum yang tak pernah diajarkan dalam buku-buku ilmu politik: semakin terang sorotan kekuasaan, semakin jelas bayangan yang ditinggalkannya.

Demokrasi selalu menyukai ironi. Ia tidak pernah berjalan lurus sebagaimana pidato-pidato kenegaraan. Demokrasi justru tumbuh dari paradoks. Dan salah satu paradoks paling memikat hari ini adalah ketika yang membentuk kabinet bayangan bukan partai oposisi, melainkan warga negara yang merasa akal sehat tak boleh pensiun hanya karena pemilu telah usai.

Mereka bukan menteri.

Tidak memiliki mobil dinas.

Tidak memiliki ajudan.

Tidak menguasai APBN.

Tidak bisa mengangkat ataupun mencopot pejabat.

Yang mereka miliki hanya sesuatu yang belakangan tampak semakin mahal dalam ruang publik: keberanian berpikir.

Di antara nama yang tampil ke muka adalah, Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana, Kalagemet atau Sri Jayanagara, Sri Gitarja atau Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara, Wikramawardhana, Ratu Suhita atau Dyah Ayu Kencana Wungu, Kertawijaya atau Brawijaya, Rajasawardhana atau Brawijaya II, Purwawisesa atau Girishawardhana atau Brawijaya III, Bhre Pandansalas atau Suraprabhawa atau Brawijaya IV, Bhre Kertabumi atau Brawijaya V, Girindrawardhana atau Brawijaya VI, Patih Udara yang roh mereka bangkit membentuk kabinet bayangan guna melihat kondisi NUSANTARA saat ini.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner - GorBanner Rahmat Saleh - Gema
Bagikan

Berita Terkait
Terkini