Catatan Hitam Pendidikan Kota Padang: Ketika Sekolah Bukan lagi Tempat Safe Space Bagi Anak

Fakhrul Ramadhan Fatan,S.Pd, Pemerhati Pendidikan. (Foto: Ist)
Fakhrul Ramadhan Fatan,S.Pd, Pemerhati Pendidikan. (Foto: Ist)

Oleh: Fakhrul Ramadhan Fatan,S.Pd, Pemerhati Pendidikan

Kota Padang sejak lama dikenal sebagai kota pendidikan, kota religius yang menjunjung tinggi falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

Namun, di balik megahnya julukan tersebut, sebuah bayangan kelam terus mengintai ruang-ruang kelas kita: perundungan (bullying).

Kasus demi kasus yang belakangan mencuat seperti yang terjadi di MAN 3 Padang dan SD 33 Rawang seolah merobek tirai kenyamanan dan membunyikan alarm bahaya yang sudah tak bisa lagi kita abaikan.

Kasus kekerasan fisik maupun perundungan verbal di lingkungan sekolah bukan lagi sekadar “kenakalan remaja” atau “bercandaan anak-anak” biasa.

Di MAN 3 Padang, kita menyaksikan bagaimana potensi kekerasan bisa merusak iklim belajar di tingkat menengah.

Sementara di SD 33 Rawang, fakta bahwa anak-anak usia Sekolah Dasar sudah terpapar dan menjadi pelaku maupun korban perundungan adalah pukulan telak bagi orang tua dan pendidik. Ini adalah sinyal merah: virus bullying telah menginfeksi dari tingkat dasar hingga menengah.

Mengapa hal ini terus berulang di kota yang berkali-kali meraih predikat Kota Layak Anak (KLA) ini?

Pertama, normalisasi kekerasan yang terselubung. Sering kali, reaksi pertama dari pihak sekolah atau lingkungan ketika ada aduan bullying adalah meremehkannya.

Frasa seperti "Ah, cuma bercanda itu" atau "Selesaikan saja kekeluargaan tanpa perlu dibesar-besarkan" adalah racun utama yang mematikan keadilan bagi korban.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner - GorBanner Rahmat Saleh - Gema
Bagikan

Berita Terkait
Terkini