“Hanya 219 saja lagi nagari yang punya tanah ulayat,” kata Prof.
Kurnia Warman, ahli tanah ulayat Universitas Andalas. Di tengah arus itu, Tanjung Alam berlawanan jalan.
Ulayatnya lepas bukan ke kebun sawit, melainkan ke bangku sekolah anak miskin.
Prosesnya pun tidak main serobot. Musyawarah adat bajanjang naiak, batanggo turun, melibatkan niniak mamak, kaum dan warga pemilik ulayat, sampai mufakat. Legalitas adat berjalan seiring hukum negara. Bersih, tanpa konflik.
Dony Oskaria lahir dan dibesarkan di Gantiang Bawah, Tanjung Alam. Masa kecilnya masa kanak-kanak desa, main bola, main-main ke sawah, mengaji dan tidur di surau. Juga malala kian kemari dalam nagari bahkan ke bukit-bukit.
Di SD depan rumahnya, yang pagi untuk SD dan sore untuk anak PGA, ia selalu jadi ketua kelas dan juara satu.
“Tidak bisa kami mengalahkannyo doh,” kata Erman, kawan sekelasnya dulu, kini Sekretaris Kecamatan Tanjung Baru. Kelas IV Dony pindah sekolah ke Padang, lalu merantau jauh dan memikul amanah besar di Jakarta.Tapi, sejauh apa pun rantau, kampung tidak pernah lepas dari ingatannya.
Mimpi itu kini menemukan jalannya. Sekolah Rakyat berdaya tampung 3.000 siswa dibangun di kampung halamannya dengan investasi Rp1,5 triliun.
SD tua tempat ia belajar dulu masih awet, namun gulma sudah tumbuh di halamannya.
Editor : Editor


