Kabut Selimuti Padang, Sekda Sumbar Minta Warga Tetap Tenang

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi menjelaskan kondisi udara harus dinilai berdasarkan data pengukuran, bukan sekadar tampilan kasat mata. (Foto: Ist)
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi menjelaskan kondisi udara harus dinilai berdasarkan data pengukuran, bukan sekadar tampilan kasat mata. (Foto: Ist)

“Kita perlu melihat kondisi ini berdasarkan data kualitas udara. Jangan hanya karena udara terlihat kabur kemudian langsung menyimpulkan bahwa kondisinya berbahaya,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.

Karena itu, perkembangan data pemantauan tetap menjadi acuan untuk melihat perubahan kondisi dari waktu ke waktu.

Arry menjelaskan, salah satu partikulat yang perlu diperhatikan adalah PM2.5 karena ukurannya sangat kecil dan dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.

Dalam kondisi tertentu, partikel tersebut dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah sehingga berpotensi memicu proses peradangan.

Paparan udara dengan kondisi kurang baik juga dapat menimbulkan keluhan seperti iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hidung berair, sakit kepala, pusing, kelelahan hingga rasa tidak nyaman saat bernapas.

Dampaknya dapat berbeda tergantung konsentrasi polutan, lama paparan dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Anak-anak, lanjut usia, perokok serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung termasuk kelompok yang lebih rentan.

Meski demikian, Arry menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Aktivitas sehari-hari tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi udara.

Kegiatan di luar ruangan yang tidak terlalu penting dapat dikurangi ketika kondisi udara kurang baik.

Editor : Editor
PWI Sumbar 2PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini