"Ini bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu menimbulkan persoalan lebih besar. Karena itu kita tidak bisa membiarkan kondisi ini berjalan begitu saja," katanya.
Harry menilai gerakan pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah paling sederhana sekaligus paling efektif untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di hilir.
Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak dapat terjadi secara instan dan membutuhkan proses edukasi yang berkelanjutan.
"Edukasi tidak bisa simsalabim. Hari ini sosialisasi lalu besok semua orang langsung memilah sampah, itu tidak mungkin. Harus ada proses, harus ada pemahaman, dan harus ada contoh yang terus menerus diberikan," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong seluruh badan publik untuk mengambil peran aktif dalam menyukseskan gerakan pilah sampah.
Menurutnya, badan publik tidak hanya bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi teladan dalam menjalankan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kepentingan publik.
Harry menambahkan, langkah sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik dapat menjadi awal yang baik dalam mendukung gerakan pilah sampah dari sumber.Apabila dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut diyakini mampu memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Lebih lanjut, Harry menegaskan bahwa keberhasilan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tidak hanya diukur dari tersedianya sarana pemilahan sampah, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadikan pemilahan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Kesadaran tidak akan lahir tanpa informasi. Karena itu gerakan pilah sampah harus terus dikampanyekan dan diedukasi agar menjadi kebiasaan bersama," tuturnya.
Editor : Editor