Mengapa Banjir Terus Berulang di Padang? Ini Penjelasan Pakar Unand

Analisis Pakar Unand Prof. Dian Fiantis: 48% wilayah Padang berlereng curam, sedimen kurangi kapasitas sungai, pengelolaan DAS terpadu & peringatan dini kunci cegah banjir berulang. (Foto: Ist)
Analisis Pakar Unand Prof. Dian Fiantis: 48% wilayah Padang berlereng curam, sedimen kurangi kapasitas sungai, pengelolaan DAS terpadu & peringatan dini kunci cegah banjir berulang. (Foto: Ist)

Ketika energi aliran meningkat, air dapat membawa pasir, kerikil, hingga bongkah batu menuju hilir. Sebaliknya, material dapat mengendap ketika kecepatan aliran menurun.

Akumulasi sedimen berpotensi mengubah penampang sungai dan mengurangi kapasitas alirannya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko luapan ketika debit sungai kembali naik.

Pengamatan setelah banjir Oktober 2026 menemukan material kasar di sekitar alur sungai Lumin Park.

Meski demikian, Dian mengingatkan bahwa volume material, sumber sedimen, dan tingkat pendangkalan sungai belum dapat dipastikan. Peneliti masih memerlukan survei penampang sungai dan pengukuran sedimen.

Kerusakan Lingkungan Hulu Perlu Dikaji

Dian juga menjelaskan bahwa perubahan penggunaan lahan dapat memengaruhi respons hidrologi daerah aliran sungai.

Pembukaan hutan, pembangunan jalan pada lereng, dan aktivitas yang mengganggu kestabilan tanah berpotensi meningkatkan limpasan serta erosi.

Namun, ia menilai penyebab banjir tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perubahan tutupan lahan.

Perbandingan citra Sentinel-2 sebelum dan sesudah banjir November 2025 di Batang Lubuk Minturun memperlihatkan indikasi bertambahnya area terbuka di sekitar alur sungai.

Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan erosi, endapan banjir, ataupun aktivitas penggunaan lahan.

Karena itu, Dian menilai penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan hubungan antara kondisi lingkungan hulu dan banjir yang kembali terjadi.

Editor : Editor
Banner Relasi Publik
Bagikan

Berita Terkait
Terkini