Inovasi ini juga mendukung program peremajaan kebun sawit karena petani tetap memperoleh penghasilan alternatif selama masa penanaman ulang.
Dari sisi lingkungan, Lameh Kesa mengurangi praktik pembakaran bagian tanaman sawit yang kerap menghasilkan asap dan mengganggu kualitas udara. Inovasi ini telah direplikasi di sejumlah daerah, termasuk Kota Padang Panjang, sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi produk unggulan daerah.
Sementara itu, inovasi Udah Gagah dikembangkan untuk mendeteksi lebih dini gejala kekambuhan ODGJ melalui pendampingan keluarga dan tenaga kesehatan.
Dengan penanganan yang lebih cepat, risiko kekambuhan dapat ditekan sekaligus mencegah praktik pemasungan yang merampas hak dan martabat penderita.
"Melalui Udah Gagah, kita ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan lebih cepat. Keluarga juga memperoleh pendampingan sehingga risiko kekambuhan dan praktik pemasungan dapat ditekan," ungkap Mahyeldi.
Program ini telah menjangkau sekitar 2.000 penerima manfaat dan direplikasi oleh sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, antara lain di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Mahyeldi menegaskan bahwa kedua inovasi mencerminkan komitmen Pemprov Sumbar menghadirkan solusi nyata atas persoalan masyarakat.Lameh Kesa memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal, sedangkan Udah Gagah menjamin perlindungan hak dan kemanusiaan bagi warga yang membutuhkan.
"Kami berharap inovasi-inovasi ini terus dikembangkan dan memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi Sumatera Barat, tetapi juga menjadi kontribusi bagi Indonesia," pungkasnya.
Dalam kegiatan ini, Gubernur didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah beserta jajaran, Kepala Rumah Sakit Jiwa HB. Saanin, serta pimpinan Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar. (***)
Editor : Editor