Meski lahir dan besar dikalangan militer, sosok Fakhrizal jauh dari kata otoriter. Selama memimpin di institusi kepolisian, Fakhrizal dikenal tegas tapi tidak arogan. Begitu juga kala bertemu masyarakat, dia tidak pelit menyapa dan selalu tersenyum.Senyum yang membuat suasana menjadi cair, sehingga masyarakat tidak sungkan untuk menyampaikan pendapat atau aspirasinya. Dari penuturan banyak pihak, Fakhrizal termasuk figur yang mau mendengarkan pendapat orang lain, siapapun itu. Mau itu ibu rumah tangga, para ahli, petani, nelayan, dan sebagainya.
Satu hal yang pasti, Fakhrizal telah mendapatkan ratusan ribu dukungan untuk maju di Pilgub. Itu bukti nyata yang tidak terbantahkan, kalau sosoknya mendapat simpati yang besar dari masyarakat.Jika berkaca pada sejarah, tentu ada kesamaan antara Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa dengan Fakhrizal. Mereka sama-sama dari institusi kepolisian, sama-sama dekat dengan masyarakat dan tidak otoriter dalam memimpin.
Satu lagi semangat memimpin merekat juga sama, Fakhrizal sering berucap saya awal memilih jalur independen karena ingin merekat perpecahan pasca Pilpres 2019 di tataran masayarakat Sumbar, sehingga bersama Genius Umar memancang tagline Bersatu Untuk Sumbar Maju.Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah Kaharoedin adalah seorang berlatarbelakang polisi juga dapat memimpin daerah dengan baik. Tidak otoriter dalam mengambil kebijakan, demokratis dalam memimpin.
Menarik kita tunggu, apakah sejarah kepemimpinan di Sumbar bakal terulang? Politik pemilihan itu penentunya adalah last minute.(dikutip dari covesia/nov) Editor : Adrian Tuswandi, SH