Emas Salido dan Emas Urai Supayang: Warisan Emas yang Terlupakan

Foto Khairul Jasmi

Pada tahun 1666, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) membuka tambang emas pertama di Hindia Belanda. Tambang ini berlokasi di Salida, yang kini dikenal sebagai Salido.

Namun, setelah beroperasi selama lebih dari dua setengah abad, tambang ini akhirnya ditutup pada tahun 1928 dengan alasan kerugian.

Meski demikian, banyak pihak meragukan alasan tersebut, mengingat potensi besar emas yang pernah dimiliki daerah itu.

Selain tambang di Salido, VOC juga mengelola 29 tambang emas lainnya, seperti di Manggani dan Bonjol.

Namun, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, tambang emas rakyat sudah tersebar di berbagai wilayah Sumatera Barat.

Aktivitas tambang ini mencerminkan bagaimana kekayaan alam Sumatera Barat telah menjadi daya tarik ekonomi sejak lama.

Pada tahun 1679, sebuah kapal yang tampak usang merapat di Pulau Cingkuak, Pesisir Selatan.

Kapal tersebut membawa budak dari Madagaskar yang akan dipekerjakan secara paksa di tambang emas Salido. Para budak ini, baik pria maupun wanita, bekerja tanpa upah.

Baca juga: Pasar Ghoib

Mereka hanya diberi makan dan minum, serta tinggal di barak-barak sederhana di tengah rimba.

Kehidupan mereka berakhir tragis; banyak yang meninggal di dalam lubang tambang tanpa upacara pemakaman.

Banner Ultah Danantara
Bagikan

Opini lainnya
Terkini