Refleksi Energi Indonesia Tahun 2024 dan Harapan Menuju 2025

Foto Hj. Nevi Zuairina

Ketimpangan infrastruktur juga menjadi masalah, terutama di wilayah terpencil yang sulit mengakses energi stabil dan terjangkau.

Pengembangan energi hijau membutuhkan pendanaan yang signifikan. Namun, rendahnya minat investor terhadap sektor ini menjadi penghalang.

Biaya investasi energi terbarukan yang tinggi dan return on investment (ROI) yang lama membuat sektor ini dianggap kurang menarik.

Selain itu, regulasi yang sering berubah-ubah menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Misalnya, kebijakan tarif pembelian listrik sering dianggap tidak kompetitif, sementara proses perizinan yang rumit menambah beban administratif.

Walaupun menghadapi banyak kendala, ada beberapa capaian yang patut diapresiasi.

Rasio elektrifikasi Indonesia mencapai 99,79%, sementara rasio desa berlistrik mencapai 99,85%. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan akses listrik ke seluruh pelosok negeri.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Hijau 2021-2030 juga memberikan harapan, dengan target porsi pembangkit energi terbarukan mencapai 48%. Energi surya menjadi salah satu sektor yang menjanjikan.

Biaya pengembangannya yang semakin terjangkau membuatnya lebih menarik untuk diadopsi secara luas.

Pemerintah juga mulai fokus pada pengembangan bioenergi dan bioethanol sebagai bagian dari strategi bauran energi primer.

Namun, implementasi kebijakan ini perlu dipercepat untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Opini lainnya
Terkini