Ketiga, berjuang dan berkurban demi kebaikan. Ibadah haji merupakan ibadah yang penuh perjuangan, menapak tilas perjuangan Ibrahim mengantarkan istri dan anaknya ke padang tandus Bakkah/ Mekkah hari ini, yang waktu itu belaum ada kehidupan sama sekali. Setelah diitnggal suaminya, Siti Hajar berjuang sendiri mencari air, berlari-lari antara safa dan marwa, hingga tujuh kali. Ketika Ismailpun sudah muda belia, ada lagi perintah Allah untuk menyemblihnya. Siti Hajar selaku ibu rela dan pasrah. Begitu juga Ismail juga ridho dengan takdir Allah.Maka setiap tahun, saudara kita yang berangkat haji, memulai perjuangan dari rumah menuju menuju Mekkah. Di sana jamaah langsung menunaikan umrah hingga tahallul. Setelah beberapa hari, para jamaah sudah harus bergerak lagi untuk melaksanakan puncak ibadah haji, bergerak menuju Arafah untuk wuquf, malam harinya menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu, keesokan harinya melontar di Mina, Tawaf ifadhah di Mekkah, kembali lagi ke Mina untuk melontar hingga selesai, lalu kembali lagi ke Mekkah atau Madinah, kemudian bersiap meninggalkan Saudi Arabia menuju Tanah air masing-masing.
Dari rangkaian ibadah haji itu, setelah wukuf, maka puncak kesulitan bahkan resiko yang paling besar adalah saat melontar yang melambangkan perlawanan atau perperangan melawan syaitan.Dengan demikian setiap muslim apalagi mereka yang sudah menunaikan haji seharusnya mau berjuang dan menjadi tokoh-tokoh pergerakan dan perubahan untuk memperbaiki keadaan dan kualitas umat. Setiap muslim harus berjuang untuk mencari nafkah, bergerak mencari ilmu, menyebarkan, menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Bergerak untuk memberantas kemaksiatan dan kemunkaran. Ini semua menunjukkan bahwa seorang muslim tidaklah orang yang pasif, diam saja menerima kenyataan, apalagi berdalih takdir dan tawakkal, tetapi terus bergerak, berjuang, menegakkan kebenaran membangun perdaban secara bersama-sama dan memberikan pelayanan kepada umat.
Keempat, jadikan masjid sebagai basis kebangkitan ekonomi dan pusat pergerakan. Ibadah haji dan rangkaian ibadah lainnya berpusat di masjid. Ketika jamaah haji kita mendapat kesempatan untuk berziarah ke Madinah, maka seluruh jamaah berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat berjamaah lima waktu di Masjid Nabawi, bahkan sampai ditargetkan mencapai angka arbain (40) waktu demi semata-mata mencari pahala.Oleh karena itu, sebagai muslim setiap kita harus memiliki ikatan batin dengan masjid yang membuat kita mau mendatangi masjid setiap hari untuk melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah. Ikatan batin kita yang kuat kepada masjid membuat kita akan menjadi orang yang dinaungi Allah SWT pada hari kiamat, Rasulullah SAW bersabda: "Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: …seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim)."
Dengan berkumpulnya kita secara rutin di masjid, maka permasalahan hidup, ekonomi dan sosial masyarakat bisa kita diskusiakn dan dicarikan solusinya. Begitulah Rasul SAW mengajarkan kepada sahabat untuk bisa kita teladani. Karena itu aneh sekali bila ada seseorang muslim, tapi sehari-hari tidak suka dan tidak mau datang ke masjid. Sementara dia, tersinggung pula jika dikatakan munafik atau bukan bagian dari umat Islam. Semantara di antara tanda kemunafikan itu adalah terasa berat dan malas untuk menunaikan shalat, Allah WT berfirman:"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS An Nisa:142)."
Pelajaran kelima adalah pentingnya keharmonisan antara sesama keluarga. Keluarga basis pertahanan bagi generasi muda dan anak-anak kita. Besarnya tantangan globalisasi mengingatkan kita kepada keteladan Ibrahim dan Siti Hajar dalam mendidik anak. Walaupun Ibrahim tinggal berjauahan dari anaknya, ternyata Siti hajar mampu memerankan diri sebagai Ibu sekaligus ayah bagi anaknya, sehingga seorang anak yang bernama Ismail tetap menghormati dan merindukan ayahnya Ibarahim.Dan ketika ayahnya datang dia memberikan pengabdian dan bakti yang luar biasa, yaitu siap untuk disemblih oleh ayahnya sendiri. Tidak mungkin semua ini bisa terjadi begitu saja, tetapi bisa dipastikan kepatuhan anak kepada orang tua bisa menjadi kenyataan, jika bapak dan Ibu dari anak-anak itu hidup harmonis dan saling menghargai, serta memberikan keteladanan.
Itulah potret keluarga Ibrahim dan Siti hajar. Adalah Siti Hajar yang bolak balik antara Safa dan Marwa sampai tujuh kali, demi mencari setetes air. Ridho dan rela ditinggal suami, bersama bayinya. Adalah Siti hajar yang juga rela dan pasrah dengan perintah Tuhannya, lewat Ibrahim untuk menyembwlih anak kandungnya.Tidak ada kedongkolan, penolakan dan dan bantahan sama sekali dari seorang istri kepada suaminya. Ibu yang seperti inilah yang mendidik dan membesarkan Ismail, sehingga mau berbakti kepada ayahnya dengan puncak pengabdian, siap untuk disembelih.Ternyata Allah SWT itu betul ada, Allah maha berkuasa. Keluarga yang harmonis yang dicerminkan oleh ayah yang bertauhid, teguh pendirian, siap berkorban apa saja. Istri yang patuh dan tabah dengan ujian, serta anak yang shaleh, berbakti kepada orangtuanya. Allah turunkan pertolongannya. Ismail diganti dengan kibas. Perjalanan mencari kebenaran tuhan, perjuangan melawan kezhaliman, proses panjang membangun perdaban di Mekkah, berujung dengan posisi kholilullah (teman dekat Allah), dan menjadi syariat bagi umat Nabi Muhammad hingga hari kiamat.Maka jika kita belum mampu berhaji, masih bisa kita meneladani Ibrahim dan keluarganya dengan berkurban, menyembelih seekor kambing pada hari tasyrik, untuk membuktikan syukur kita atas nikamt Allah yang begitu banyak. Inna aktoinakal kautsar, fashollili raobiika wan har, sungguh kami telah beri nikmat yang banyak kepadamu, maka tunaikanlah sholat dan berkurbanlah.
Andai kita sedang dalam kesulitan, banyak persoalan, ujian dan cobaan yang tidak pernah berhenti, berat dan besarnya persoalan hidup. Pastikan kita tidak menyerah dan putus asa. Tetaplah berusaha dan dalam ketaatan, maka pasti pertolongan Allah akan datang.Dengan menolong agama Allah SWT, membantu para pemimpin yang memperjuangkan nilai-nilai agama, maka pasti Allah akan menolong kita, Janji Allah sungguhlah pasti: In tanshurllah, yanshur kum. Jika kamu menolong agama Allah, maka pasti Allah akan menolong kamu.
Inilah setidaknya hikmah, keteladanan dan pelajaran dari Ibrahim dan keluargaya, semoga bisa menjadi modal hidup dalam membangun rumah tangga, bangsa dan negara, bagi rakyat jelata dan penguasa. Jika ini terealisasi, maka insya Allah jadilah negeri kita ini menjadi negeri yang aman, damai dan sejahtera dalam naungan ridha Allah. Baldatun Toyyibatun wa rabbun ghofur. (analisa)
Editor : Adrian Tuswandi, SH