Charles Dickens Sebagai Novelis Terbesar di Era Victoria

Arifa A.H. (dok) Charles Dickens (Medcom. Id)Gad’s Hill Place (Visit Gravesend)
Arifa A.H. (dok) Charles Dickens (Medcom. Id)Gad’s Hill Place (Visit Gravesend)

Tahun 1843, A Chrismas Carol diterbitkan yang merupakan cerita terpendek jika dibandingkan dengan novelnya yang lain.Menyusul Martin Chuzzlewit (1843-1844), the Chimes (1845), The Cricket on The Heart (1846), dan Dombey and Son (1846-1848).

Tahun 1850, Dickens mendirikan sebuah jurnal mingguan bernama Household Words yang memuat karya-karyanya, yaitu A Child’s History of England (1851-1853), Hard Times (1854), A Tale of Two Cities (1859), dan Great Expectations (1860-1861).Selama revolusi industri banyak terjadi kerusuhan dan menyebabkan banyak korban tewas, selain itu Inggris tidak peduli pada rakyat miskin. Kesengsaraan tersebut dituangkan oleh Dickens dalam novelnya yang berjudul A Tale of Two Cities.

Hal tersebut menjadikan karya-karya Dickens dipercaya turut berpengaruh dalam berbagai gerakan reformasi.Di samping itu, Dickens juga menulis antara lain David Coppperfield (1849-1850), Bleak House (1852-1853).

Blaek House berisi kritik pedas terhadap Doctors Commons dan ketidakpedulian sebagian besar orang terhadap kehidupan masyarakat miskin.Karya selanjutnya yaitu Little Dorrit (1855-1857), dan Our Mutual Friend (1864-1865).

Mutual Friend dianggap sebagai karya terbaik Dickens yang berisi lebih dari 50 karakter dan novel ini bercerita tentang strata sosial.Sebagai novelis terkenal pada masanya, Dickens banyak terlibat dalam pertunjukan pembacaan karya-karya sastra, bahkan ia tampil lebih dari 400 kali di panggung. Namun pertunjukan ini membuatnya kelelahan dan sakit.

Di tengah kesehatannya yang memburuk, pada tahun 1869, ia mulai menulis The Mistery of Edwin Drood. Sayangnya novel tersebut tidak terselesaikan karena tanggal 9 Juni 1870, Dickens meninggal dunia secara tiba-tiba di Gad’s Hill Place, rumah impiannya sejak kecil yang dibelinya pada tahun 1856.[caption id="attachment_60151" align="alignnone" width="700"] Gad’s Hill Place (Visit Gravesend)[/caption]

Dalam catatatan Patti Kirkpatrick, Dickens punya keinginan untuk dimakamkan di Rochester Chatedral “dengan cara yang mudah, bersahaja, dan sangat pribadi.”Kemudian ia dimakamkan di Poets’ Corner di Westminser Abbey.

Lima hari setelah pemakaman Dickens, Minggu, Juni 19 1870, kepala Gereja Arthur Penrhyn Stanley menyampaikan syair memorial, memujinya dengan “sosok humoris yang ramah dan penuh kasih yang sekarang kita berduka atas kepergiannya”, kemudian menunjukkan dengan melanjutkan “yang bahkan ketika berurusan dengan adegan terkelam dan karakter yang paling rusak sekalipun, seorang jenius masih tetap bersih, dan kegembiraan menjadi hal tak berdosa.”Menunjuk ke bunga segar yang menghiasi kuburan sang novelis, Stanley meyakinkan mereka yang hadir bahwa “tempat itu sejak saat itu akan menjadi salah satu tempat suci bagi Dunia Baru maupun Dunia Lama, seperti halnya bagi para wakil sastra, tidak di pulau ini saja, tetapi bagi semua orang yang bicara dengan bahasa Inggris.”

Menurut J. Green, dalam bukunya Famous Last Words Green, Dickens sempat mengujarkan kata- kata terakhirnya. Sebagaimana dilaporkan dalam berita kematian di The Times, tulis Grees, Dickens berkata: “Be natural my children. For the writer that is natural has fulfilled all the rules of art.” Yang berarti “Bersikaplah alami anakku. Karena penulis yang alami telah memenuhi semua aturan seni.(analisa) 

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini