Tingkatan sederhana, seperti yang dirujuk oleh si gadis anak professor, adalah bunga mawar merah darah yang sedang tidak mekar di musim itu. Sedangkan tingkatan kedua adalah perhiasan dari permata yang hanya bisa diberikan orang kaya.Tingkatan pertama yakni mawar semerah darah merefleksikan perjuangan dan pengorbanan. Dalam hal kecantikan dan keanggunan, mawar merah merupakan simbolisasi dari keanggunan yang natural yang tidak mudah didapatkan namun juga sangat rapuh.
Cerita tersebut menempatkan mawar merah sebagai kecantikan yang sederhana karena bisa didapatkan dengan harga murah,Tingkatan kedua yakni perhiasan dari permata merefleksikan kemewahan dan kebangsawanan. Perhiasan dari permata sebagai bentuk kehormatan tertinggi dan penawaran mutlak yang tidak dapat ditolak. Pengarang berusaha memberikan batasan antara kecantikan yang biasa saja dan kecantikan yang luar biasa dari kedua tingkatan tersebut.
Ditambah lagi, keduanya sebenarnya tidaklah merujuk pada kecantikan dan keanggunan sejati namun hanya sebagai pelengkap berhubung si gadis telah memiliki gaun yang anggun dan hanya menginginkan aksesoris untuk lebih mempercantik penampilannya.Berdasarkan kedua cerita pendek tersebut, standar kecantikan dan keanggunan yang direfleksikan dalam penampilan dua karakter perempuan merujuk pada pakaian dan aksesorisnya.
Baik dalam The Necklace dan The Nightingale and the Rose, standar kecantikan ditunjukkan dari keanggunan gaun dan kemewahan aksesorisnya yakni perhiasan.Penolakan dari kedua karakter wanita dalam kedua cerita tersebut merujuk pada standar kecantikan dan keindahan yang tertinggi, yakni kemewahan yang direpresentasikan dengan perhiasan mewah. Standar kecantikan yang ditunjukkan dalam kedua cerpen tersebut selain menunjukkan sifat alamiah manusia, juga menunjukkan permasalah ekonomi dan sifat konsumerisme.(analisa) Editor : Adrian Tuswandi, SH