Oleh: AISYAH NURHANIZA(Mahasiswa Ilmu Sejarah UNAND Peserta Mata Kuliah Menulis Artikel Sejarah)
MASA-MASA setelah kemerdekaan, merupakan periode yang amat sulit dilalui. Salah satu situasi dan kondisi terberat yang pernah dialami dalam perjalanan sejarah bangsa.Bayangkan saja, negara yang masih seumur jagung dan baru merdeka ini mengalami cobaan yang bertubi-tubi. Cobaan tersebut datang silih berganti, baik itu dari internal maupun eksternal.
Mereka mencoba mengganggu dan menggoyahkan keutuhan Negara Indonesia yang baru memasuki masa-masa awal perjalanan sebagai sebuah negara merdeka.Indonesia yang baru merdeka di tahun 1945, mendapatkan gangguan yang cukup menyita perhatian dunia Internasional. Para penjajah kembali berusaha menancapkan kukunya untuk menguasai Indonesia.
Hal ini tentunya menjadi sebuah ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan nyata yang dihadapi oleh para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan. Ada dua peristiwa besar yang terjadi ketika itu yakni, Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II.Kedua aksi polisionil Belanda ini dilancarkan hanya berselang dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia yakni di tahun 1947 dan 1948. Terkhusus Agresi Militer Belanda II, merupakan titik penentuan kelangsungan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka.
Hal ini disebabkan karena terjadinya penyerangan ibukota di Yogyakarta dan penangkapan terhadap para pemimpin negara. Dengan demikian terjadi kekosongan pemerintahan yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk menyatakan bahwa Indonesia telah hilang dari peta dan kembali meneruskan cita-citanya untuk membentuk negara federal.Namun kenyataannya, Belanda gagal dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Memang dari segi militer mereka mampu mencapai hasil gemilang, tetapi itu hanya kemenangan yang semu. Jauh di pedalaman Sumatera, ternyata berdiri pemerintahan yang sah dan diluar dugaan Belanda.
Pemerintahan tersebut terbentuk melalui pesan surat kawat yang telah dikirimkan Soekarno kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi sebelum beliau ditangkap. Melalui pesan tersebut, dimandatkan kepada Syafruddin untuk membentuk dan menjalankan pemerintahan secara darurat dari tempatnya berada.Melalui mandat tersebut, Mr. Syfruddin Prawiranegara yang saat itu berada di Bukittinggi membentuk emergency gouvernment atau Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Selama masa PDRI, banyak sekali tokoh yang terlibat baik tokoh nasional maupun tokoh daerah. Semua tokoh tersebut memiliki perannya masing-masing yang sama pentingnya. Bahkan dari mereka juga banyak yang gugur sebagai pahlawan yang dikenal dan tidak dikenal.Salah satu dari sekian banyak tokoh yang terlibat ialah Chatib Soelaiman. Tidak banyak orang yang tahu dan mendengar nama beliau. Terutama para generasi muda, pasti sangat asing ketika mendengar namanya.Kalau pernah mendengar pasti itu dari nama salah satu ruas jalan protokol di Kota Padang yakni Jalan Khatib Sulaiman, tetapi terkait peran dan jasa beliau kurang tersorot. Padahal beliau merupakan salah satu tokoh yang berjasa selama masa PDRI.
Chatib Soelaiman merupakan seorang tokoh yang lahir dari sebuah nagari di tepi Danau Singkarak yakni Nagari Sumpur di Kabupaten Tanah Datar. Beliau lahir di antara tahun 1906 atau 1907 dari keluarga yang mapan dan terpandang. Ayahnya Haji Sulaiman merupakan seorang pedagang di Pasar Gadang.Melalui peran keluarga inilah beliau dapat mengenyam pendidikan dari HIS hingga ke MULO. Namun, pada saat beliau bersekolah di MULO usaha ayahnya jatuh bangkrut tetapi Chatib tidak putus semangat. Melalui bantuan seorang saudagar kaya yakni Abdullah Basa Bandaro, beliau tetap dapat melanjutkan pendidikan dan bahkan juga mendapatkan ilmu yang mengasah pola pemikiran beliau di dunia pergerakan dan revolusi.
Sebelum terjadi peristiwa PDRI, Chatib Soelaiman telah berperan penting dalam perjuangan daerah. Beliau terkenal sebagai seorang aktivis muda dan dekat dengan Giyugun Sumatera Barat. Giyugun merupakan cikal bakal tentara nasional di Sumatera Barat yang berdiri pada masa Pemerintahan Jepang dan kelak akan menjadi tulang punggung kekuatan bersenjata setelah kemerdekaan.Sehari setelah kemerdekaan Chatib muncul dengan mengumpulkan beberapa tokoh senior. Beliau memberikan pidato terkait perlunya membentuk gerakan pendukung proklamasi di tengah-tengah keraguan masyarakat. Melalui pidato tersebut, dibentuklah Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) sebagai wadah untuk mengkoordinasikan perjuangan. Chatib juga termasuk di dalamnya sebagai bagian bidang perhubungan bersama beberapa tokoh lainnya seperti Bagindo Aziz Chan. Selain sebagai anggota BPPI, beliau juga merupakan anggota Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatera Barat bidang Badan Penolong Keluarga Korban Perang.
Beberapa bulan sebelum Agresi, wakil presiden Mohammad Hatta datang berkunjung ke Sumatera. Selama di Sumatera beliau menelurkan beberapa kebijakan yang memiliki pengaruh besar dalam menghadapi Belanda di masa Agresi.Salah satunya yaitu penyatuan kekuatan perjuangan. Di Sumatera Barat Hatta mencoba untuk menyatukan sejumlah partai dan organisasi sosial di bawah satu komando yakni melalui Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK). BPNK merupakan suatu badan pertahanan dan keamanan sipil yang didirikan setelah Agresi Militer I.
Editor : Adrian Tuswandi, SH