PDRI dan Peran Chatib Soelaiman yang Terlupakan

Sketsa Chatib Sulaiman, Chatib Sulaiman pantas jadi Pahlawan Nasional. (sumber google)
Sketsa Chatib Sulaiman, Chatib Sulaiman pantas jadi Pahlawan Nasional. (sumber google)

Chatib Soelaiman termasuk salah satu dari lima tokoh yang menjadi pimpinan BPNK. Terpilihnya Chatib tentunya memiliki alasan karena merupakan seorang tokoh muda di bidang politik terkemuka di Sumatera Barat pada masa itu. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memang memiliki peran penting selama masa perjuangan.Memasuki masa PDRI dan setelah dilakukan penyusunan kabinet darurat, mereka mulai bergerak dari yang semula di Bukittinggi pindah ke Halaban.

Mereka memilih Halaban karena rute kesana merupakan jalan keluar yang paling mungkin untuk meloloskan diri dari Belanda. Selain itu, disana terdapat tempat menginap sementara tanpa mengganggu penduduk.Ketika di Halaban juga ditetapkan susunan kabinet darurat pada tanggal 22 Desember. Keberadaan mereka di Halaban tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua hari saja kemudian berpindah lagi kedua tempat yakni Bidar Alam dan Kototinggi.

Rombongan PDRI akhirnya sampai di Kototinggi tanggal 24 Desember 1948. Mereka yang ikut terdiri dari kalangan sipil dan militer. Salah satunya ialah Chatib Soelaiman yang sebelum terjadinya peristiwa ini menjabat sebagai ketua eksekutif KNI Sumatera Barat.Selama berada disana, mereka berusaha mengkonsolidasikan kekuatan perjuangan untuk melawan Belanda. Rasjid sebagai residen di Sumatera Barat kemudian mengangkat Chatib Soelaiman sebagai penasihat residen yang akan membantu residen dalam menjalankan tugas sehari-hari. Selain sebagai penasihat residen, Chatib juga termasuk kedalam jajaran Struktur

Kekuasaan di Sumatera Barat masa Agresi Militer II. Beliau menjabat sebagai pemimpin keamanan dengan mengepalai badan yang bernama Markas Pertahanan Rakyat (MPRD). Beliau merupakan orang pertama yang menjabat sebagai kepala MPRD yang kedudukannya sejajar dengan residen dan juga berasal dari kalangan sipil. Beliau bukanlah tokoh yang memiliki latar belakang militer, namun pada masa pemerintahan Jepang sangat dekat dengan Giyugun karena membantu merekrut pemuda agar masuk ke dalam Giyugun.Selama di Kototinggi, Chatib Soelaiman selaku ketua MPRD bersama dengan Datuak Simarajo tokoh adat yang aktif di politik melakukan perjalanan keliling. Perjalanan mereka pertama ialah ke Kamang yang merupakan garis depan pertahanan republik terhadap musuh di Bukittinggi.

Di sana beliau mencoba untuk mengkonsolidasikan BPNK setempat guna memperkuat pertahanan daerah demarkasi. Selain itu, beliau juga berusaha menjalin komunikasi dengan kelompok militer yang beroperasi di sekitar Kamang dibawah pimpinan Kol. Dahlan Djambek. Chatib tidak sempat untuk melanjutkan perjalanan ke daerah lainnya, karena dipanggil untuk kembali ke Kototinggi guna mempersiapkan rapat besar di Situjuh Batur.Rapat besar tersebut diadakan pada tanggal 15 Januari 1949 di sebuah nagari yang bernama Situjuh Batur. Chatib Soelaiman hadir di sana sebagai salah satu sipil yang paling tinggi kedudukannya. Peran beliau dalam rapat tersebut sangat penting karena bertindak sebagai pemimpin rapat. Agenda rapat pada saat itu ialah membahas bagaimana memulihkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah yang tergerus akibat kerapuhan barisan keamanan sipil dan militer yang menyebabkan diserangnya beberapa wilayah hingga ke pedalaman Payakumbuh. Tetapi ternyata dalam prosesi rapat tersebut,

Belanda tiba-tiba telah mengepung lokasi rapatnya di Surau Kincir. Akibat adanya pengkhianat yang memberi tahu tempat rapat para pejuang kepada Belanda. Sehingga Belanda menembaki mereka secara membabi buta dan menewaskan sebanyak 69 tokoh.Tragedi ini merupakan yang paling memilukan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Sumatera Barat. Rapat yang seharusnya menjadi wadah konsolidasi perjuangan melawan Belanda berubah menjadi peristiwa berdarah yang memakan banyak korban hanya dalam beberapa jam saja. Akibatnya banyak tokoh dan pemimpin terkemuka yang diharapkan dapat memimpin perjuangan justru gugur, termasuk salah satunya Chatib Soelaiman.

Perjuangan Chatib harus terhenti di tanggal 15 Januari 1949 Karena tewas dalam pertempuran Situjuh melawan Belanda. Beliau gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa yang jasanya harus selalu dikenang oleh para generasi muda sebagai salah seorang tokoh pejuang dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Chatib bukanlah orang yang sembarangan, karena sejak masa pendudukan jepang hingga masa PDRI telah memainkan peranan penting dalam bidang pertahanan dan keamanan rakyat.

Oleh karena itu, ia dipandang sebagai organisator pertahanan rakyat Sumatera Barat zaman perjuangan kemerdekaan.Melalui peran beliau inilah, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah seperti yang dikutip melalui media antarasumbar. com mengatakan “Chatib Sulaiman adalah tokoh pejuang asal Sumpur, Tanah Datar, Sumatera Barat yang lahir pada 1906 dan meninggal dalam peristiwa Situjuah untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia pada 15 Januari 1949. Beliau sangat pantas dijadikan pahlawan nasional.

Semoga apa yang dicita-citakan dan diharapkan oleh masyarakat Sumatera Barat agar Chatib Soelaiman menjadi pahlawan nasional dapat terwujud beberapa tahun kedepan.(analisa) 

  

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini