Membangun ikatan atau mencari titik sambung dengan kecenderungan bahasa serta media yang berbeda dalam sebuah pameran tentunya bukanlah perkara mudah.
Salah satu aspek yang dirasa memungkinkan untuk mendapatkan ketersambungan keempat peserta pameran adalah menelaah sisi histori dari perkembangan seni rupa. Dimana antara naturalisme hingga digital art berada dalam lintasan perkembangan seni rupa dari masa ke masa. Inilah yang melatarbelakangi pemilihan tema pameran ini, Lintas Masa.
Selain perihal perkembangan, cakupan dari tema pada pameran ini juga tidak terlepas dari ruang sosial para perupanya yang menjadi gagasan dalam penciptaan karya.
Corak Naturalistik
Di Minangkabau (baca: Sumatra Barat), naturalistik diperkenalkan kepada kaum pribumi di Hindia Belanda oleh para pelukis Belanda atau bangsa Eropa lainnya baik belajar secara pribadi maupun, melalui pendidikan menggambar/melukis di Kweek School.
Naturalistik awalnya berasal dari aliran Barbiinzon di Perancis. Lukisan naturalistik (pemandangan alam) merupakan kesukaan masyarakat kelas menengah (borjuasi) di Eropa.
Lukisan bercorak naturalistik muncul bersamaan dengan perkembangan kelas menengah, yaitu kelas masyarakat yang berlatar belakang saudagar dan pengusaha yang kurang menyukai lukisan yang menggambarkan adegan cerita dari Injil sebagai ciri lukisan abad pertengahan di Eropa.
Corak ini berawal dari munculnya pergeseran cara pandang dari the age of authority menjadi the age of reason yang membawa pengaruh besar terhadap perubahan sosial pada masa neoklassisme di Eropa. Sebuah babak baru memunculkan terjadinya pertentangan sosial antara kaum bangsawan dengan kaum borjuasi. Kaum borjuasi lebih memilih lukisan bercorak naturalistik (Pemandangan Alam).
Corak yang berasal dari aliran Barbiinzon Perancis inilah yang dibawa oleh para pelukis Belanda ke Hindia Belanda (Indonesia) pada abad ke-19. Tokoh –tokoh naturalis seperti Raden Saleh, Abdullah Suryosubroto, Mas Pirngadie, Wakidi dan Basuki Abdullah adalah penggerak corak Naturalis di Indonesia.
Tebaran corak naturalistik sebagai bentuk modernitas seni rupa di Sumatra Barat dipelopori oleh pelukis pada Wakidi pada tahun 1940-an.
Editor : Adrian Tuswandi, SH