CALIFORNIA, delapan tahun lalu, Micheal Tubbs, sosok muda keturunan Afrika-Amerika mencatat sejarah gemilang hidupnya. Di usia 26 tahun, Tubbs menjadi Walikota termuda Stockton, kota kecil di California, Amerika Serikat. Tubbs dengan semangat mudanya adalah pancang keramat perubahan peradaban Stockton yang bertahun-tahun terjebak dalam kemiskinan. Dia memutus pradigma buruk, dan membawa Stockton menjadi kota perubahan.
Bulan-bulan awal menjabat, Tubbs dalam kerisauan menyaksikan nasib warga yang dipimpinnya. Stockton terjebak dalam kemiskinan akut. Dari seratus ribuan warganya, 38 persen tercatat melarat. Lebih parahnya, 60 persen penduduk Stockton putus sekolah. Paling banter tamat sekolah menengah pertama. Tubbs memutar keras otaknya untuk mengatasi kondisi akut demikian.Langkah tepat diambil Tubbs. Dia mengedepankan kolaborasi seluruh pihak untuk mengubah keadaan. “Berapa banyak yang bisa kita lakukan secara bersama-sama? Selama ini kita hanya mendengar, dan berempati dalam hati menyaksikan keadaan yang buruk, tanpa melakukan aksi-aksi nyata untuk mengubah. Kini masanya untuk total beraksi dalam ruang kolaborasi,” tegas Tubbs dalam pidatonya dihadapan beragam kalangan. Pidato yang disambut gemuruh dan kebulatan tekad mengubah keadaan.
Semangat Tubbs dan kolaborasi yang dilakukan mengubah wajah miskin Stockton, berganti kesejahteraan. Di tangannya, Stockton setara dengan kota-kota lain di California. Tubbs mengakhiri jabatannya dengan kepala tegak. Dia meninggalkan legitimasi peradaban yang akan terus dikenang sebagai buah tangan sosok pemimpin muda.Pondasi sejarah yang dibangun Tubbs, adalah kerelaan kaum tua memberi jalan pada anak-anak muda untuk memimpin perubahan. Sejarah yang tercipta dengan kesepahaman, bahwasanya revolusi di tangan anak muda merupakan suatu keniscayaan. Tubbs menjadi landmark politisi muda yang dipercaya merangkul keniscayaan.
Politisi tua di Stockton dengan kesadarannya melangkah mundur, dan secara bersama-sama mendorong Tubbs maju. Mereka memilih peran sebagai penasehat. Tokoh-tokoh tua sadar diri, menanggalkan keserakahan atas kekuasaan atas nama perubahan. Kesadaran diri kaum tua itu menjadi pintu Tubbs untuk masuk lebih dalam ke ruang pengabdian.Tapi saat ini, kita tidak akan bicara panjang lebar tentang Tubbs, tapi tentang seorang anak muda yang punya semangat seperti yang dimiliki Tubbs. Namanya Rizki Kurniawan Nakasri (RKN-red). Tanah kelahiran RKN berjarak puluhan ribu kilometer dari Stockton. Jauh. Namun, totalitas Tubbs menginspirasinya.
Serupa Tubbs, RKN juga sedang manaruko ruang lebih lapang dalam pengabdian. Dia kini menjabat Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota. Tapi jabatan wakil bupati itu menjadi “belenggu” baginya untuk mencebur lebih jauh ke dalam ceruk masalah publik. Dia ingin menanggalkan belenggu itu.Saya dipertemukan dengan RKN beberapa tahun lalu, tapi dalam suasana dan kondisi kurang enak awalnya. Saat itu, saya masih aktif di media. Menjabat sebagai Vice Director Haluan Media Group (HMG), sementara RKN sudah wakil bupati. Ada kerja-kerja jurnalistik wartawan Haluan yang dianggap RKN menyinggung privacy-nya saat itu. Dia merasa terganggu. Tapi kerja jurnalistik tersebut tak salah. Datanya konkrit.
Persoalan ini akhirnya kami selesaikan di meja kopi dengan diskusi dan kepala dingin. RKN terbuka dikritik, dia tidak marah secara emosional. Kecakapannya mengelola emosi menjadi salah satu modal untuk menjadi pemimpin, orang besar. Bukankah pemimpin harus begitu? Tidak membungkam kritik dan mengekang kebebasan berpendapat. Kami juga sama-sama berlapang hati untuk melupakan persoalan dan memilih untuk menghabiskan energi membangun kampung halaman.Sejak pertemuan pertama, saya dan RKN berkawan baik. Seringkali terlibat diskusi panjang, dan bergagasan. Dari satu diskusi ke diskusi lainnya, pandangan saya pada RKN berubah. Dia tidak seperti yang dinarasikan lawan politiknya sebagai sosok oportunis, sebaliknya. RKN pemimpin yang selalu berusaha mendahulukan kepentingan publik dibandingkan kepentingan pribadi.RKN bukan tipikal pemimpin yang tidak memaksakan diri untuk merengkuh sesuatu yang bukan bagiannya. Tidak memaksakan orang-orang terdekatnya untuk masuk ke lingkar kekuasaan. Sikapnya anti-tesis dari sebagian sikap pemimpin lainnya. Sikap demikianlah yang barangkali membuat dirinya dianggap oportunis oleh sebagian kalangan yang mendahulukan transaksional dibandingkan kepentingan publik. RKN tak bisa ditawar untuk melanggengkan sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya.Mentalitas yang dimiliki RKN tidak datang serta merta. Semua dia dapat dari tempaan organisasi. RKN bisa disebut pemimpin muda yang masak di batang, bukan hasil peram atau karbitan. Jiwa kepemimpinannya tampak sejak kecil. Dia tidak lahir dari keluarga yang punya kekuatan politik mumpuni. RKN tidak digendong orangtuanya dalam membangun karir politik. Dia merangkak dari nol.
Ari-ari RKN tertanam di tanah Harau. Dia memang lahir di Lubuk Jantan, Gurun, Kecamatan Harau, Limapuluh Kota, pada 16 Januari 1987. Kakeknya seorang pemuka agama Islam bernama Imam Biran Datuak Majoindo. RKN keturunan Syekh Abdul Manan yang pernah belajar Islam di Mekah dan mendirikan perguruan Islam di Tanjung Alam.Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Harau, RKN melanjutkan pendidikan di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Selama menjadi mahasiswa, RKN aktif berorganisasi. Puncaknya, putera Lubuak Jantan ini menjadi Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unand pada 2009. Dari posisi presiden mahasiswa, RKN membangun sendiri jalan politik dan bisnisnya.
Dalam berbisnis, RKN yang masih berstatus mahasiswa mendirikan perusahaan Andalas Education Tour (AET) bersama seorang temannya. AET Travel Internasional yang bergerak di bidang jasa biro perjalanan haji dan umrah besar di tangan RKN. AET Travel Internasional termasuk pemain utama di bidang umrah dan memiliki puluhan cabang. Kerja keras RKN tak mengkhianati hasil.Seorang kawan, Juli Ishaq Putera yang kenal dengan RKN sejak kuliah pernah bercerita pada saya, bahwa untuk mendapatkan modal membangun AET Travel, RKN dan kawan-kawannya sampai berjualan jamur krispy ke sekolah-sekolah yang ada di Padang. Uang dari berjualan jamur inilah yang dikumpulkan, lalu dibelikan perangkat kerja pertama. Ishaq termasuk orang yang ikut berjualan jamur itu.
Layaknya anak muda yang punya nawacita baik, RKN sosok yang fokus. Sebagai pejabat publik, nafsu untuk membangun Limapuluh Kota menggebu. Dia seringkali mencurahkan keresahannya. Pada saya, dia bercerita, bagaimana dia ingin membangun Limapuluh Kota sebagai daerah yang tidak sekadar penyangga pariwisata, tapi menjadi kawasan premium.Bentang alam dan segala keelokan yang dimiliki Limapuluh Kota memenuhi syarat agar tanah kelahiran Tan Malaka itu maju. Namun, acap kali potensi yang dimiliki tidak berbarengan dengan tindakan. Ruwetnya birokrasi memperburuk suasana. RKN merasa terbelenggu menjadi orang nomor dua. Tidak bisa banyak berbuat.
Editor : Adrian Tuswandi, SH

