Catatan Benni Okva: Kisah Rizki Kurniawan Nakasri, dari Presiden Mahasiswa Menuju Kursi Bupati

Benny Kota dan Rizki Kurniawan.(dok)
Benny Kota dan Rizki Kurniawan.(dok)

“Bagaimana mungkin membangun pariwisata premium, sementara pemerintah daerah sendiri tidak memiliki master plan yang baik? Masyarakatnya tidak dipersiapkan untuk sadar wisata, infrastruktur tidak dibangun. Alangkah naifnya, daerah yang dianugerahi Allah dengan bentang alam cantik, namun tidak terkelola untuk kemaslahatan umat,” ungkapnya.Keresahan RKN banyak. Segunung. Dari pariwisata, pertanian, hingga anak-anak muda yang seolah tidak diberi ruang untuk mengembangkan kreatifitasnya. Dia juga beberapa kali marah ketika tahu alokasi anggaran daerah tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, malahan termakan oleh program-program yang jauh dari kepentingan publik. Dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Rp1,33 Triliun, belanja operasional Pemkab Limapuluh Kota mencapai 77,91 persen. Tentu ini tidak sebanding. Uang tidak berputar di tengah masyarakat, dan tidak dipakai untuk pembangunan yang berpihak pada publik.

“Padahal kita butuh banyak uang untuk membangun jalan, irigasi, pertanian, dan program-program kesejahteraan lainnya. Di tengah kebutuhan itu, belanja modal malah hanya 9,57 persen dari total APBD. Seminimalnya 20 persen,” tutur RKN.Saya beberapa kali tertawa ketika dia mengutarakan keresahannya. Tertawa, karena dirinya sekarang adalah wakil bupati, orang yang mestinya bertanggungjawab atas ketidakseimbangan neraca keuangan itu. “Bung, anda wakil bupati,” ujar saya. Wajahnya memerah saat saya bicara.

“Kalau saja saya diberi ruang untuk mengambuil kebijakan, barangkali sudah saya lakukan semenjak pertama menjabat. Tangan saya gatal melihat kondisi yang terjadi. Tapi bung kan tahu, saya cuma wakil bupati yang tidak diberi ruang itu.Kebijakan dan kewenangan berada di tangan bupati, saya wakil. Itu kenapa pada akhirnya saya resah,” tangkis RKN.Pernyataan RKN ada benarnya. Saya tahu betul kondisi yang dilaluinya. RKN memang tidak punya ruang untuk total dalam pengabdi. Ini sudah menjadi rahasia publik. Segala kecerdasan, konsep pembangunan yang digagasnya hanya ada diangan-angan. Ini sangat disayangkan. Ada anak muda yang berani berkorban tenaga, uang dan pemikiran untuk kampung halamannya, tapi malah dipatahkan. Semangatnya dibunuh. RKN sedang merasakan itu.

Wajar RKN merasa gagal. Limapuluh Kota termasuk daerah dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi di Sumatera Barat (Sumbar). Katadata mencatat, lebih kurang 56 ribu penduduk Limapuluh Kota tercatat sebagai warga miskin. Jika dipersentasekan, dengan jumlah penduduk sekitar 395 ribu jiwa, angka kemiskinan di Limapuluh Kota di akhir 2023 mencapai 6,8 persen. Ironinya, angka kemiskinan itu meningkat dibandingkan tahun 2022. Di tahun itu angka kemiskinan berkisar 6,59 persen. Kondisinya memang tidak separah Stockton, namun tentu memunculkan kerisauan.Sedari awal menjabat wakil bupati, RKN berkomitmen mengubah keadaan, membawa tanah kelahirannya ke puncak peradaban. Namun, nasibnya tidak seberuntung Tubbs. Berbanding terbalik. Jika di Stockton, Tubbs diberi jalan lapang oleh politisi tua, RKN tidak. Dia seolah diganjal. Maklum, posisinya hanya wakil bupati. Dia tidak memiliki kekuasaan penuh untuk mengubah keadaan. Putera Harau itu tidak diberikan ruang untuk menunaikan pengabdian. Pemikiran RKN seperti dibelenggu, langkahnya dipersingkat.

Oh iya, RKN menjadi pemimpin Limapuluh Kota bersama Safaruddin Datuak Rajo Bandaro sebagai bupati. Safaruddin merupakan politisi tua. Usianya 67 tahun. Jika saja Safaruddin berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dia seharusnya telah pensiun. Sebab, batas usia PNS di Indonesia 65 tahun.Di usia tuanya, Safaruddin masih minat jabatan. Dia merupakan tokoh kawakan Golkar yang sudah menduduki banyak posisi politik di Luak Nan Bungsu. Sebelum menjadi bupati, Safaruddin merupakan anggota DPRD Sumbar, pernah menjabat Ketua DPRD Limapuluh Kota. Safaruddin juga berhasil mengantarkan anaknya menjadi anggota DPRD. Tentu ini jadi sejarah, dimana seorang ayah jadi kepala daerah, anaknya wakil rakyat. Harus diakui, Safaruddin piawai dalam berpolitik, saya banyak belajar dari dia.

Belenggu jabatan inilah yang sekarang coba dilepas RKN. Dengan segenap talenta yang dimilikinya, RKN sudah bicara pada publik, dia ingin maju bupati. Bagi RKN, ini bukan sekadar soal birahi kekuasaan, tapi menunaikan kewajiban. Dia ingin membayar lunas apa yang jadi janji politiknya terdahulu, tapi tidak terealisasi. RKN ingin purna dalam pengabdian, sebab itu dia akan bertarung merebut kursi nomor satu di Limapuluh Kota. “Ada utang yang harus saya bayar lunas pada masyarakat yang memberi saya amanah,” tuturnya, kala kami bertemu di Petto Kafe, Payakumbuh beberapa waktu lalu.Sikap mengakui kondisi pelik RKN saya maknai sebagai sikap pertanggungjawaban. Sebagai pemimpin muda, RKN bersikap satria. Saya mendorongnya untuk melakukan perubahan, mendorongnya melawan kondisi yang katanya tidak berpihak pada publik. Saya meneruskan pesan Che Guevara padanya. “Bung, bagi anak muda, keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau memiliki itu, maka kau memiliki harga diri. Saya jadi tulang punggung pergerakan ini. Kita harus sama-sama istiqamah,” ucap saya serius.

Saya berkali-kali menyampaikan kalimat-kalimat Bung Willy Aditya, cendekiawan muda yang kini menjabat Ketua DPP Nasdem pada RKN. Bahwasanya keresahan yang dia punya harus menjadi landasan perjuangan di tengah kebangkrutan integritas. Kita tidak boleh membiarkan kekuasaan justru diisi mayoritas pedagang, hingga peradaban yang terbangun tak lebih dari transaksi pasar malam.“Bung, kita tak boleh kalah oleh keadaan. Bagaimanapun keyakinan akan keberanian dan perubahan, adalah sesuatu yang harus terus dikobarkan, karena itu kemewahan yang layak untuk terus dijaga dan diperjuangkan. Bung sudah berada di garis itu, tak ada lagi kata surut. Malam ini, keyakinan untuk membawa perubahan sama-sama kita tebalkan,” ungkap saya.

“Saya tegak lurus,” tegas RKN. Dia tidak sedang main-main dengan ungkapan itu. Sebagai lelaki Minang, dia paham kalau langkah sudah terayun, pantang untuk menoleh ke belakang, apalagi surut. RKN tahu semua tidak akan mudah, tapi sebagai politisi masak di batang, saya meyakini dia sudah mengkalkulasikan segala konsekuensi dari sikapnya. Saya yakin dia telah menelaah jalan yang akan dilalui.Saya menghela nafas panjang, memandangi setiap gurat wajahnya. Saya tak melihat adanya kegamangan. Matanya beberapa kali nyalang, senyalang semangat yang sedang dikobarkan. Di depan saya, malam itu di Petto Kafe, sedang duduk seorang anak muda yang dendam pada keadaan buruk, dan ingin menuntaskan dendamnya dengan cara-cara baik. Saya menyalaminya, menjabat erat tangannya, sebagai isyarat bahwa sama-sama punya keinginan mengubah kampung halaman.

Malam telah rebah, pertemuan kami melahirkan semangat dan gagasan baru. Pada momentum tersebut saya teringat kisah Micheal Tubbs. RKN sedang berproses ke sana. Saya riang. Malam itu malam yang berbeda, saya membayangkan secara kias, kalau tiba-tiba esok pagi “matahari” di Limapuluh Kota tidak lagi terbit dari Baruah Gunuang, tapi dari Lubuak Jantan, Harau. Semoga…… (*)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Komintau - MenteriBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari BuruhBanner Rahmat Saleh - Pers
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini