Petani, Wajib Coba MTOT: Hasil Melimpah dan Modal Hemat!

Pak Makmur Memisahkan atah dan padi haisl swah MTOT, Sabtu (26/10/2024). (Foto: Ist)
Pak Makmur Memisahkan atah dan padi haisl swah MTOT, Sabtu (26/10/2024). (Foto: Ist)

“Ini bukan teori, tapi fakta yang kita saksikan langsung,” kata Asramon.

Menurut Imam, dengan hasil 10-12 ton per hektar dan harga gabah sekitar Rp 6.000 per kilogram, maka sekali panen petani bisa meraih pendapatan hingga Rp 120 juta.

Setelah dikurangi modal sekitar Rp 30 juta, keuntungan yang diperoleh petani bisa mencapai sekitar Rp 90 juta per panen atau Rp 30 juta per bulan—melebihi gaji beberapa pejabat pemerintahan.

Saat ini, sekitar 50 hektar sawah di Pesisir Selatan telah menerapkan MTOT, dan sebanyak 800 petani terdaftar sebagai pengguna MTOT.

Bupati Pesisir Selatan pun sangat mendukung metode ini dan telah meminta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk melaksanakan demplot MTOT di setiap nagari.

Bagi petani bernama Bakri, MTOT juga menjadi solusi di tengah permasalahan irigasi yang rusak akibat bencana.

Di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Bakri bersama kelompok taninya memutuskan untuk tetap bertani meski tanpa air irigasi.

"Saya menggunakan MTOT tanpa menyemai, mencabut, atau menanam bibit, langsung menabur benih di lahan sawah," ungkap Bakri.

Koordinator UBI Sumbar, Isra, memuji inovasi Bakri. Menurut Isra, metode MTOT tanpa irigasi dan tanpa menyemai ini merupakan langkah baru yang mengurangi tahapan bertani secara signifikan.

“Selain tidak perlu memikirkan perbaikan irigasi, metode ini juga memotong tahapan tanam yang rumit,” ujar Isra.

Editor : MS
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini