[caption id="attachment_1304" align="aligncenter" width="512"]
YMPM kesukitan dana biaua Da'i di pedalaman Mentawai. (foto: google)[/caption]Padang,---Informasi memiriskan para penjuang syiar Islam di pedalaman Mentawai diperoleh setelah seorang Da'i berjalan kaki selama dua jam mendaki bukit untuk mendapatkan sinyal telpon, Senin 5/6 siang tadi.
Hanya untuk mengabarkan kalau Da'i Pedalaman YMPM yang ditempatkan di Pedalaman Siberut maupun di Sikabaluan menyampaikan kondisi yang sedang mereka hadapi."Ternyata informasinya, persediaan berbuka dan sahur mereka di hari ke 10 Ramadhan ini sudah mulai habis. Para Da'i pedalaman berharap agar kendala yang sedang mereka hadapi dengan habisnya ransum mereka untuk berbuka dan sahur dapat segera dibantu mengatasinya,"ujar Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM) Ust M Shidiq sebagaimana tersebarbdi group whatshap TOP100.
Selain kendala kehabisan logistik, kendala ketersediaan Ransum berbuka dan sahur di pedalaman, para Da'i juga menyampaikan agar mereka bisa dibantu untuk pengadaan solar untuk menghidupkan genset."Karena menurut Da'i yang kita kirim ke Mentawai, tanpa adanya genset suara azan, shalat berjama'ah, ceramah agama, shalat taraweh dan kegiatan keagamaan lainnya kurang semarak sehingga syiarnyapun kurang dirasakan oleh para Muallaf di sana,"ujarnya.
Harapan mereka kata Ust Shiddieq mengharapkan agar solar dapat segera dikirim supaya program keagaamaan di pedalaman Mentawai dapat berjalan dengan sebaik mungkin.Selain Ransum untuk berbuka dan sahur, pengadaan solar, para Da'i juga berharap kalau bisa ada semacam hadiah ringan yang diberikan kepada para muallaf yang rajin beribadah, aktif dalam kegiatan Ramadhan, muallaf yang dapat menjawab pertanyaan dan lain sebagainya.
"Harapan dari Da'i di pedalaman ini menjadi tanggung jawab bagi kami sebagai Pengurus Yayasan muslim Peduli mentawai (YMPM) yang telah memberangkatkan sebanyak 120 orang Da'i untuk disebar ke pedalaman-pedalaman Mentawai baik di Siberut, Sipora, Sikabaluan dan daerah lainnya hingga ke daerah paling pelosok Mentawai,"ujarnya.Padahal sebelum memberangkatkan 120 orang da'i pedalaman, Pengurus YMPM mengalami kendala dana yang sangat besar.
"Donasi yang terkumpul untuk memberangkatkan Da'i pedalaman pada hari H keberangkatan Da'i Pedalaman hari Jum'at, 26 Mei 2017 waktu itu dana yang terkumpul hanya RP. 82.000.000,- (delapan puluh dua juta rupiah), sementara biaya yang diperlukan sebanyak Rp. 900.000.000,- (sembilan ratus juta rupiah),"ujarnyamJujur kata Ust Shiddieq bahwa terasa berat beban dakwah yang sedang kami pikul untuk menjalankan misi dakwah di Mentawai Ramadhan 1438 H/2107 M ini.Bahkan selama tujuh tahun berdakwah di Mentawai inilah beban dakwah yang paling berat terasa oleh para Pengurus Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM)."Rasanya kami tidak kuat menjalankan program yang sangat berat ini. Namun kami tidak mungkin membatalkan program mulia ini atau mengurangi jumlah Da'i yang dikirim, sebab kami merasakan betul dengan hati nurani dan keimanan yang ada dalam diri kami bahwa ribuan Muallaf Mentawai sedang berharap untuk kami mengirimkan Da'i Ramadhan,"ujarnya.
Bahkan banyak diantara ketua Muallaf Mentawai yang berderai air mata meminta kepada kami agar kami mengirimkan Da'i Ramadhan ke Perkampungan mereka seperti tahun-tahun sebelumnya."Di saat beban berat menumpuk di kepala, bahkan fikiran terasa lelah memikirkannya kami tetap berjuang membangun keoptimisan, kami tidak boleh lemah semangat, kami harus berani dan kuat menjalankan perjuangan dakwah ini.
Sebab untuk masuk ke syorga Allah swt tidak mudah untuk mendapatkannya perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar,"ujarnya.Akhirnya sampailah kaki pada kesimpulan bahwa bagi YMPM kendala dana yang dihadapi jangan sampai dakwah untuk membina Muallaf, menghidupkan semarak Ramadhan, syiar Islam dan kegiatan keagamaan menjadi terhalang.
"Untuk itu program dakwah harus tetap jalan mana tau ini adalah perjuangan akhir dalam kehidupan kita. Allahu A'lam bis showam,"ujarnya.Meskibdana yang terkumpul baru Rp. 82.000.000,- karena qhiroj Syiar islam YMPM i harus memberanikan diri untuk mencarikan jalan keluar dari semua ini.
Editor : Adrian Tuswandi, SH
