Gerakan pelestarian budaya ini semakin diperkuat dengan kampanye #JagoLuhakNanTuo yang telah berlangsung sejak November 2024.
Berbagai kegiatan rutin diadakan, seperti belajar silat setiap Senin, pasambahan setiap Rabu, serta musik dan tari tradisional setiap Minggu.
“Kegiatan ini tidak hanya memberikan ruang kreativitas bagi generasi muda, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya. Wisatawan dapat merasakan pengalaman langsung melalui ‘Life Experience di Ranah Minang’ atau ‘Culture Trip’. Mereka bisa belajar silek tuo, memahami demokrasi di ota lapau, serta menelusuri arsitektur rumah gadang dan surau tuo yang unik,” jelas Febby, yang merupakan alumni PPRA LXIII Lemhanas RI.
Sebagai bentuk penguatan ekosistem budaya, Kapalo Koto juga akan dilengkapi dengan kebun tanaman obat khas Minangkabau, sanggar tari, serta kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Medan Bapaneh Maha Karya.
Semua ini bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat lokal.Febby berharap agar Tanah Datar, sebagai Luhak Nan Tuo, tidak hanya menjadi pusat budaya Minangkabau tetapi juga berkembang menjadi pusat pengembangan budaya Melayu di Asia, mencakup Brunei, Singapura, Malaysia, dan Patani.
“Ini adalah momentum bagi pemerintahan baru Kabupaten Tanah Datar untuk membentuk Dinas Kebudayaan yang berdiri sendiri, tidak dicampur dengan dinas lainnya. Sebagai jantung kebudayaan Minangkabau, Tanah Datar harus menempati posisinya yang seharusnya. Apalagi, Batusangkar dikenal sebagai Kota Budaya dengan banyak situs cagar budaya yang tersebar di seluruh kabupaten. Pemerintah daerah harus fokus mengeksplorasi warisan ini agar pariwisata Tanah Datar tidak sekadar menjadi tempat persinggahan, tetapi benar-benar menjadi destinasi utama kebudayaan di Sumatera Barat,” tegas Febby. (***)
Editor : MS