Padang, - Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan seminar bertema kebijakan luar negeri dan pembangunan nasional yang diselenggarakan secara hybrid oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumbar, Rabu (23/4/2025).
Kegiatan ini dinilai mampu memperkuat literasi para pemangku kebijakan, pelaku usaha, dan UMKM dalam mendorong hilirisasi komoditas serta peningkatan ekspor daerah.
“Seminar ini sangat positif. Narasumber menyampaikan hal-hal yang sejalan dengan visi kami untuk mempercepat hilirisasi dan ekspor unggulan daerah,” ujar Mahyeldi usai mengikuti acara yang digelar di Kanwil DJPb Sumbar, bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri RI.
Acara ini mengangkat tema “Membangun Diplomasi Sawit Indonesia yang Berdampak terhadap Peningkatan Fiskal Daerah”.
Dalam seminar tersebut, Mahyeldi menegaskan pentingnya menambah jumlah pabrik pengolahan sawit agar proses hilirisasi bisa menjangkau produk jadi.
Saat ini, terdapat 38 unit pabrik kelapa sawit di Sumbar. Rinciannya, 14 unit berada di Pasaman Barat, 7 di Dharmasraya, 5 di Solok Selatan, dan masing-masing 4 unit di Agam, Pesisir Selatan, serta Sijunjung.Namun, menurut Mahyeldi, jumlah tersebut belum cukup untuk mengolah seluruh hasil produksi sawit Sumbar yang mencapai 699,39 ribu ton pada tahun 2024.
“Jika kita ingin hilirisasi optimal, tentu pabrik harus ditambah. Bahkan, kita harus mulai memproduksi barang jadi berbasis sawit,” katanya menambahkan.
Sementara itu, Diplomat Ahli Madya dari Kemenlu, Drs. Freddy M. Panggabean, M.A., menyampaikan bahwa penguatan hilirisasi dan ekspor menjadi sangat penting di tengah tren ketegangan geopolitik dan perang dagang global.
Meski tantangan besar dihadapi, ia menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Editor : MS

