“Ini adalah laboratorium alam hidup yang harus terus dijaga dan dimanfaatkan secara bijak,” ujarnya.
Tak hanya itu, keterkaitan antara geologi dan budaya juga sangat nyata. Misalnya, arsitektur rumah gadang yang tidak memakai paku merupakan bentuk adaptasi masyarakat mengantisipasi perkembangan modern zaman.
“Rumah Gadang tanpa paku jadi kearifan lokal yang merupakan warisan tak ternilai dari proses interaksi panjang manusia dengan alam,” tutur Subari, Manajer BP Geopark Kota Bukittinggi.
Namun, seperti disampaikan Jakfar, Manajer BP Geopark Kabupaten Agam, upaya konservasi dan edukasi belum maksimal.
“Kita perlu lebih masif mengedukasi masyarakat, memperkuat peran komunitas, serta mendorong pemanfaatan geopark secara berkelanjutan,” katanya.
Geopark Nasional Sianok–Maninjau dikembangkan melalui tiga pilar utama:
1. Konservasi lingkungan dan warisan geologi.2. Edukasi dan riset yang memperkaya literasi publik.
3. Ekonomi berkelanjutan yang menyejahterakan masyarakat lokal.
Kesadaran akan pentingnya kebersihan, sanitasi, dan hospitality pun menjadi perhatian. Menurut YV Tri Saputra, penggagas Minang Geopark Run, event publik yang menggabungkan sport tourism bisa menjadi media promosi sekaligus edukasi yang efektif.
Editor : MS