UNAND, ITB dan Komunitas Perempuan Peduli Bencana Pelopori Hunsela Korban Banjir Padang

UNAND, ITB  dan Komunitas Perempuan Peduli Bencana Pelopori Hunsela Korban Banjir Padang
UNAND, ITB dan Komunitas Perempuan Peduli Bencana Pelopori Hunsela Korban Banjir Padang

Oleh: Henny Herwina, Ketua Departemen Biologi FMIPA UNAND

Pemanfaatan lahan kaum didorong sebagai solusi hunian pasca-banjir melalui kolaborasi UNAND, ITB, dan komunitas perempuan.

Komunikasi penulis dengan koordinator pembangunan Hunian Sementara Sehat dan Layak (Hunsela) bagi 40 orang masyarakat Suku Tanjuang, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh Padang terus berlangsung diantara diskusi menyikapi putusnya akses jalan bagi Warga 5 RT di RW 04 Batu Busuk Kelurahan Lambuang Bukik dan RT 03 RW 04 Kelurahan Kapalo Koto karena telah semakin tergerusnya jalan akibat tingginya curah hujan di Kecamatan Pauh hingga 2 Januari lalu.

“Masyarakat berharap adanya izin untuk menggunakan jalur alternatif ….”, jelas Dasrul, S.S., M. Si., koordinator Pembangunan Hunsela yang juga Wakil Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Budaya UNAND ini.

“Karena sebagian bahan bagunan masih tersedia, pembangunan Hunsela dapat terus berlangsung dan diperkirakan sebanyak 11 Kepala keluarga (KK) Masyarakat Suku Tanjuang akan dapat menempati Hunsela minggu depan,” ujar Dasrul optimis, walau tak mampu meyembunyikan kegalauannya akan akses jalan yang sedang terputus bagi masyarakat Batua Busuak. Ia berharap segera menemukan solusi bersama pemerintah dan Universitas Andalas yang memiliki lahan bersebelahan persis dengan lahan masyarakat Batu Busuak.

Hunsela Suku Tanjuang ini telah mulai dibangun di atas tanah kaum, setelah kaum bermusyawarah untuk menyediakan 11 petak tanah yang diperuntukkan bagi masing-masing dari 11 KK yang ada. Maka diukurlah 11 kapling tanah dengan luas masing-masingnya 144 m2 yang posisinya dirancang sedemikian rupa berada pada sisi-sisi yang dihubungkan oleh jalan utama.

Team UNAND yang mendapat penjelasan dari Dasrul sejak beberapa hari pasca bencana banjir yang telah meluluh lantakkan rumah dan lahan pertanian mereka di dekat Sungai Batang Kuranji bahwa suku Tanjung tak ingin berlama-lama berduka, berharap segera bangkit dan membangun lagi rumah mereka sendiri di tanah kaum yang posisinya lebih tinggi (tempat mereka mengevakuasi diri saat banjir besar pada tanggal 27 November terjadi).

Tanah kaum yang dimaksud, menurut Dasrul, dahulunya me,mang sudah merupakan area Rumah Gadang, pemukiman sebenarnya kaum mereka di masa lalu, namun godaan kepraktisan telah membuat pertumbuhan rumah dan lahan bertani kaum ini telah bergeser ke sekitar area yang sangat dekat aliran sungai, sehingga menjadi menjadi terdampak berat oleh kuatnya banjir bandang.

Beberapa penggiat IKA UNAND dan beberapa organisasi dan individu yang tergabung pada komunitas Perempuan Peduli Bencana merasa perlu ikut membantu warga dalam situasi seperti itu.

Hunian Sementara Sehat dan Layak (Hunsela) yang akan tumbuh bersama Hunian Tetap (Huntap) sesuai Harapan warga

Menurut Prof. Dr. Eng. Fauzan (Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik UNAND) yang merupakan konsultan ahli bagi Pembangunan Hunsela ini, karena Hunsela beserta tanah lokasi bangunan adalah milik masing-masing KK, maka hunian tetap (Huntap) bagi warga sebaiknya dibangunkan di lokasi yang sama, sehingga rancang bangun telah diadaptasikan sejak awal agar bisa bersambung secara serasi, dan Hunsela akan menjadi bagian dari Huntap.

Editor : Editor
Banner - JPSBanner - Nevi Hari IbuBanner KAIBanner Ultah SolselBanner Solsel 2
Bagikan

Berita Terkait
Terkini