Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi
Pertengahan Februari, salah seorang tokoh masyarakat Minang yang juga Ketua BP BUMN, Doni Oskaria, menyampaikan keprihatinannya.
Sebagai anak rantau, ia cemas melihat kondisi ranah. Ekonomi yang kian terpuruk menjadi perhatian utamanya saat berkunjung ke kampung halaman.
Sebagai pengusaha, ia menyarankan Sumatera Barat segera berbenah. Pertumbuhan ekonomi yang rendah adalah sinyal bahaya. Kondisi ini harus segera disikapi agar daerah tidak semakin terpuruk.
Sumatera Barat harus bangkit. Industrialisasi berbasis potensi lokal perlu dihadirkan. Salah satu sektor potensial adalah pariwisata. Sumatera Barat perlu mencontoh Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali. Dua daerah tersebut mampu tumbuh melalui sektor pariwisata.
Kerisauan Doni Oskaria menjadi pemantik. Sejumlah tokoh mulai tersentak. Beberapa pihak ikut gelisah.Saya termasuk yang risau. Istilah “labirin 4 persen” sudah berulang kali saya sampaikan. Dalam berbagai tulisan dan forum diskusi, hal itu terus saya tekankan. Namun, hasilnya belum berubah. Dari kuartal ke kuartal, kondisi nyaris stagnan.
Awal Tahun yang Sulit
Tahun baru biasanya membawa harapan baru. Namun, realitas belum sejalan. Tahun yang diharapkan menjadi momentum kebangkitan pascabencana dan keterpurukan ekonomi tampaknya masih berat.
Masalah utamanya adalah konektivitas. Akses manusia dan barang masih tersekat. Jalur Lembah Anai masih buka-tutup. Jalur alternatif Sicincin–Malalak juga belum sepenuhnya lancar. Perputaran ekonomi pun tersendat.
Lembah Anai adalah nadi utama ekonomi Sumatera Barat. Jalur ini menjadi penghubung ibu kota provinsi dengan kabupaten dan kota penyangga. Jalur ini juga menghubungkan Padang dan Pekanbaru sebagai pasar utama.
Editor : Editor