Saya memperkirakan pertumbuhan Q1/2026 tidak akan melampaui 3 persen. Jika itu terjadi, maka secara year on year akan terjadi kontraksi, meski secara quarter to quarter tetap positif.
Fiskal yang Masih Abu-abu
Penggerak utama ekonomi Sumatera Barat adalah belanja pemerintah. Namun, belanja daerah pada awal 2026 tidak sebaik awal 2025.
Siklus belanja memang cenderung rendah di awal tahun. Transfer keuangan daerah belum sepenuhnya turun. Belanja awal tahun bertumpu pada SiLPA tahun sebelumnya.
Belanja modal dan jasa masih minim. Pemerintah baru menjalankan belanja rutin seperti gaji dan operasional. Dampaknya terhadap makroekonomi sangat terbatas.
Belanja rehabilitasi dan rekonstruksi juga belum berjalan optimal. Bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur fisik belum sepenuhnya digulirkan.
Tekanan fiskal menjadi penyebab utama. Taksiran kerugian akibat bencana hidrometeorologi mencapai sekitar Rp33 triliun. Penanganannya harus dilakukan secara multiyears.Bencana pun belum sepenuhnya usai. Sejumlah daerah masih terdampak. Longsor dan banjir susulan terus terjadi.
Rasa waswas juga belum hilang. Masyarakat di daerah hiliran sungai masih cemas. Setiap hujan deras, debit air langsung meningkat. Kondisi ini ikut menekan aktivitas ekonomi.
Berharap Konsumsi
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat sangat bergantung pada konsumsi. Hambatan konektivitas memengaruhi ketersediaan barang dan jasa.
Harapan tetap ada. Idul Fitri diharapkan menjadi puncak konsumsi. Arus mudik perantau diyakini akan meningkatkan belanja masyarakat.
Editor : Editor