Kerisauan Doni Oskaria

Tokoh perantau Minang sekaligus Ketua BP BUMN Dony Oskaria. (Foto: Ist)
Tokoh perantau Minang sekaligus Ketua BP BUMN Dony Oskaria. (Foto: Ist)

Selasa, 17 Februari 2026, saya kembali melintasi kawasan tersebut. Itu adalah kali kedua saya melewati jalur Padang–Bukittinggi pascabencana hidrometeorologi.

Proses pemulihan memang berjalan. Namun, estimasi penyelesaian dalam 90 hari tampaknya akan molor. Titik bencana tidak berkurang. Longsoran susulan justru muncul setelah hujan deras.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum kebangkitan makroekonomi. Lonjakan konsumsi saat Ramadhan biasanya mendorong pertumbuhan ekonomi. Produksi pangan dan sandang pun meningkat.

Sayangnya, momentum ini terancam tidak optimal. Hambatan transportasi masih menjadi kendala. Jalur Sitinjau Lauik tidak mungkin menjadi satu-satunya andalan. Kemacetan hampir pasti terjadi.

Berpeluang Kontraksi

Jika pada Q4/2025 Sumatera Barat tumbuh minus secara quarter to quarter dan year on year, maka Q1/2026 berpeluang kembali terkontraksi secara year on year.

Mengapa? Sulit bagi Sumatera Barat menyamai pertumbuhan Q1/2025 sebesar 4,66 persen. Angka tersebut ditopang kinerja Q4 2024 yang tumbuh 4,04 persen.

Artinya, Q1/2025 dimulai dari basis yang relatif kuat. Pertumbuhan bergerak dari 4,04 persen menjadi 4,66 persen.

Bandingkan dengan kondisi 2026. Pada Q4/2025, pertumbuhan hanya 1,69 persen. Artinya, awal 2026 dimulai dari basis yang rendah. Jaraknya sangat jauh untuk menyamai 4,66 persen.

Dalam 45 hari pertama Q1/2026, momentum sudah melemah. Hingga pertengahan Februari, ekonomi masih melambat. Konektivitas manusia dan barang belum pulih. Pasokan sembako dari dan menuju Kota Padang masih terhambat. Kondisi ini pasti berdampak negatif pada pertumbuhan.

Walau bukan data final, separuh periode Q1/2026 cukup menjadi dasar analisis. Perputaran ekonomi berat. Belanja pemerintah belum maksimal. Belanja modal masih minim.

Editor : Editor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini