ALKO Bongkar Rantai Harga Kopi, Petani Berpeluang Raup Nilai Lebih Besar

CEO PT ALKO Sumatera Kopi Suharyono (kiri) didampingi Direktur Pebriansyah (kanan) dan Pembina Ridwan Tulus (tengah) saat ngopi bareng media di Pangeran Beach Hotel, Padang, Kamis (30/4/2026). (Foto: Ist)
CEO PT ALKO Sumatera Kopi Suharyono (kiri) didampingi Direktur Pebriansyah (kanan) dan Pembina Ridwan Tulus (tengah) saat ngopi bareng media di Pangeran Beach Hotel, Padang, Kamis (30/4/2026). (Foto: Ist)

Perjalanan ALKO dimulai sejak 2017 dan menghadapi berbagai dinamika pada 2018. Namun, pendekatan profesional terus diperkuat melalui pembentukan unit usaha yang berorientasi pada kesejahteraan anggota.

Dukungan awal juga datang dari World Wide Fund for Nature (WWF), yang membantu pengembangan awal. Salah satu terobosan penting adalah penerapan teknologi blockchain sejak 2019, yang disebut sebagai yang pertama di Asia untuk sektor kopi.

Teknologi ini diperkenalkan oleh mitra dari Jepang, Sasuke Morasaki, dan menjadi fondasi transparansi rantai pasok. Bahkan, dalam waktu singkat, produk ALKO berhasil menembus pasar global dan masuk jaringan Starbucks.

Langkah Ekspor yang Disebut Bersejarah

Sementara itu, Pembina PT. ALKO Sumatera Kopi Ridwan Tulus menilai langkah yang dilakukan PT ALKO Sumatra Kopi merupakan catatan penting yang perlu diketahui dunia.

Ia menyebut, strategi ekspor yang dilakukan perusahaan menjadi terobosan di sektor kopi nasional.

“PT ALKO Sumatra Kopi mencatat langkah tidak biasa dalam ekspor kopi dengan mengirim 10 ton kopi ke Oman melalui jalur udara. Strategi ini dipilih untuk memenuhi permintaan cepat pasar Timur Tengah, meski biaya logistik jauh melampaui harga produk,” ujar Ridwan Tulus yang juga tokoh pakar kepariwisataan Sumatera Barat itu.

Fokus Regenerasi Petani Milenial

Pengembangan kopi juga dilakukan di wilayah Agam melalui pendampingan langsung kepada petani. ALKO menaruh perhatian besar pada regenerasi petani milenial dengan mendorong digitalisasi sektor pertanian.

Selain itu, perusahaan menargetkan kemandirian pembiayaan melalui koperasi, tanpa bergantung pada modal eksternal. Model ini dinilai mampu memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi.

Secara historis, kopi Sumatera Barat telah dikenal dunia sejak awal abad ke-20. Catatan menunjukkan, pada 1901 kopi dari wilayah ini telah dikenal hingga Eropa, termasuk Norwegia.

Saat ini, produksi kopi yang terhimpun dalam koperasi mencapai sekitar 13.000 ton per tahun dari 41.000 anggota. Namun, serapan oleh ALKO di Sumatera Barat masih di bawah 100 ton per tahun.

Editor : Editor
Banner Komintau - Menteri
Bagikan

Berita Terkait
Terkini