Tanah Datar, - Di balik riuhnya kokok ayam di kandang-kandang sederhana milik warga Nagari Koto Panjang, Kecamatan Lintau Buo, terselip keluh kesah yang berat. Sabtu (27/6/2026).
saat menengok langsung kondisi para peternak ayam petelur skala UMKM di daerah tersebut, bukan cerita panen yang membahagiakan yang terdengar, melainkan jeritan soal harga yang tak masuk akal.
Kondisi pasar saat ini memang sedang tidak ramah bagi pelaku usaha kecil. Harga jual telur di pasaran tiba-tiba anjlok drastis. Sialnya, di waktu yang bersamaan, harga pakan ayam atau konsentrat justru melesat naik tak terkendali.
"Harago talua murah kni pak, sadangkan harago pakan maha," (Harga telur murah sekarang, sedangkan harga pakan mahal) tutur Eka Godok, salah satu pengusaha telur ayam setempat.
Kalimat pasrah dalam bahasa Minang itu meluncur begitu saja dari mulut Eka saat ditemui di sekitar kandang ayamnya.
Keluhan singkat ini nyatanya bukan cuma masalah Eka seorang, tapi mewakili rasa frustrasi hampir seluruh peternak ayam petelur di Kenagarian Koto Panjang saat ini.Bagi peternak skala rumahan seperti mereka, hitung-hitungannya sebenarnya sangat sederhana.
Kalau harga pakan naik, otomatis modal harian membengkak. Idealnya, harga telur juga harus naik agar peternak bisa bernapas.
Namun kenyataannya di lapangan justru terbalik, telur yang mereka kumpulkan tiap pagi malah dihargai sangat murah oleh pasar.
Kondisi jomplang ini ibarat buah simalakama. Ayam-ayam di kandang tetap harus diberi makan setiap hari tanpa peduli harga konsentrat sedang mahal.
Editor : Editor