Korea Selatan tidak berubah menjadi kekuatan industri tanpa pembangunan infrastruktur secara masif. Tiongkok tidak memiliki jaringan jalan tol terpanjang di dunia jika setiap proyek selalu berhenti di meja penolakan.
Begitu pula di Indonesia. Riau bergerak cepat membangun Tol Pekanbaru-Dumai hanya sekitar tiga tahun. Ruas Pekanbaru-Bangkinang dan Bangkinang-XIII Koto Kampar menyusul dalam waktu yang relatif singkat. Jambi menyelesaikan ruas Tempino-Jambi dalam waktu sekitar dua tahun.
Lihatlah Sumatera Barat. Kita mau menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk menyelesaikan satu ruas Padang-Sicincin sepanjang sekitar 36 kilometer. Apakah gambaran yang sama bakal terjadi pada pembangunan Tol Sicinci-Bukittinggi-Payakumbuh. Jika Padang - Sicincin sepanjang 36 Km butuh waktu tujuh tahun kira kira Sicincin-Payakumbuh berapa tahun pula?
Ini bukan sekadar soal jalan. Ini soal kecepatan berpikir. Ini soal keberanian mengambil keputusan. Ini soal kepastian bagi investasi. Tidak ada investor yang nyaman menanamkan modal di daerah yang setiap proyeknya selalu menghadapi ketidakpastian.
Investasi hakikinya bukan hanya tentang keuntungan perusahaan. Investasi berarti lapangan kerja. Investasi berarti pendapatan masyarakat. Investasi berarti bertambahnya pajak daerah. Investasi berarti tumbuhnya usaha kecil, rumah makan, penginapan, jasa transportasi, dan ekonomi rakyat.
Kita musti membedakan dua hal. Pertama, kritik yang membangun. Kritik diperlukan agar pembangunan menghormati hak masyarakat, menjaga lingkungan, dan berjalan secara transparan.
Kedua, penolakan yang lahir dari ketakutan terhadap perubahan. Penolakan seperti ini justru membuat daerah kehilangan peluang. Ranah ini akan terus tercecer. Kita akan terjerumus sebagai daerah terbelakang. Ekonomi akan sulit berkembangan. Anak dan kemenakan kita kian sulit mendapatkan peluang pekerjaan.Demokrasi tidak boleh dimaknai sebagai hak untuk menolak segala sesuatu. Demokrasi juga mengandung tanggung jawab untuk memikirkan masa depan bersama.
Leluhur kita telah menunjukkan teladan. Mereka tidak hanya mewariskan rumah gadang. Mereka mewariskan keberanian. Keberanian mengorbankan emas demi republik. Keberanian menyerahkan tanah demi pendidikan. Keberanian berpikir melampaui zamannya.
Kini pertanyaannya sederhana. Apakah kita masih mewarisi keberanian itu? Ataukah kita justru mewarisi kebiasaan mencari alasan untuk berkata, "tidak"? Jika jawabannya adalah yang kedua, maka jangan heran apabila daerah lain terus melaju, sementara Sumatera Barat berjalan di tempat.
Editor : Editor
