Jakarta, - Senyum itu akhirnya mengembang. Setelah berbulan-bulan berada di kawasan Teluk Arab yang diliputi ketegangan geopolitik, Rizqi Rafif bisa kembali melihat perairan Indonesia dari geladak kapal yang ia tumpangi.
"Kami senang akhirnya berhasil keluar dari Hormuz."
Kalimat singkat itu meluncur spontan dari awak kapal VLCC Pertamina Pride tersebut saat disambut manajemen PT Pertamina International Shipping (PIS) melalui konferensi video. Bagi banyak orang, itu mungkin hanya ungkapan biasa. Namun bagi Rizqi dan rekan-rekannya, kalimat itu menyimpan cerita panjang tentang kecemasan, keberanian, dan harapan yang mereka bawa selama melintasi salah satu jalur pelayaran paling sensitif di dunia.
Rizqi, yang bertugas sebagai Second Officer di Pertamina Pride, bersama 22 awak kapal lainnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada 8 Juli. Setelah perjalanan panjang, kapal akhirnya tiba dengan selamat di perairan Cilacap pada 24 Juli.
Di balik keberhasilan itu, ada jam-jam yang terasa berjalan lambat.
Bagi pelaut, ombak tinggi, badai, dan cuaca buruk adalah bagian dari pekerjaan sehari-hari. Namun kali ini tantangan yang mereka hadapi bukan hanya alam. Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah membuat setiap keputusan navigasi harus diambil dengan penuh kehati-hatian.Ketegangan serupa juga dirasakan Daryl Josua Makaminang, Third Officer kapal Gamsunoro. Kapalnya lebih dulu melintasi Selat Hormuz pada 25 Juni melalui jalur selatan dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Saat itu, suasana perang masih terasa nyata.
"Kami tentu cukup khawatir dengan situasi perang saat itu. Syukurlah kami bisa melewati Selat Hormuz dengan selamat," ujar Daryl.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sehari setelah Gamsunoro berhasil keluar dari kawasan tersebut, sebuah kapal lain dilaporkan mengalami serangan di wilayah yang sama.
Editor : Editor


