Perjalanan melintasi Selat Hormuz memakan waktu sekitar delapan jam. Empat jam di antaranya dilalui pada area yang dianggap paling kritis. Dalam situasi seperti itu, kewaspadaan menjadi harga mati.
Rizqi masih mengingat bagaimana sistem GPS kapal sempat mengalami gangguan atau jamming. Kondisi tersebut membuat seluruh tim navigasi harus bekerja ekstra untuk memastikan kapal tetap berada di jalur aman.
"Kami sempat merasa cemas. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan, instruksi pihak mana yang harus diikuti. GPS juga mengalami gangguan. Bisa dibilang kami sangat beruntung bisa melewati semuanya dengan selamat," tuturnya.
Di daratan, keluarga menunggu kabar. Sementara di kantor pusat, manajemen PIS terus memantau perkembangan situasi dari waktu ke waktu.
Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Surya Tri Harto, mengatakan keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama perusahaan selama konflik berlangsung.
"Sejak kapal memasuki kawasan Teluk, kami terus memantau kondisi seluruh awak. Keselamatan kru selalu menjadi prioritas utama kami, bahkan di atas muatan dan aktivitas operasional," katanya.
Bagi Surya, keberhasilan para awak kapal bukan sekadar pencapaian operasional. Ada pengorbanan dan dedikasi yang tidak terlihat di balik layar distribusi energi nasional."Bagi kami, kalian adalah pahlawan. Dalam kondisi normal saja pelaut harus menghadapi ombak, angin, dan lautan lepas. Di Selat Hormuz, risiko yang kalian hadapi jauh lebih besar," ujarnya.
Rasa syukur yang sama disampaikan Presiden Komisaris PIS, Anwar Saadi. Selama beberapa bulan terakhir, kata dia, perusahaan mengikuti perkembangan situasi dengan penuh kekhawatiran.
"Hari ini kami bersyukur dapat melihat kru Pertamina Pride dan Gamsunoro kembali dalam kondisi sehat dan tersenyum," katanya.
Editor : Editor


