Kepemimpinan yang lemah dapat membuat bencana menjadi krisis berkepanjangan. Sebaliknya, kepemimpinan yang kuat mampu mempercepat pemulihan sekaligus memperbaiki sistem pembangunan agar lebih tahan terhadap bencana berikutnya.
Sumatera Barat juga mempunyai kekuatan ekonomi yang sering kurang dihitung: perantau Minangkabau.
Jaringan perantau bukan hanya modal sosial, tetapi juga modal ekonomi. Mereka dapat menjadi investor, membuka pasar produk Sumbar, mengembangkan jaringan perdagangan, memperkuat pariwisata, serta membawa pengetahuan, teknologi dan pengalaman dari luar daerah.
Karena itu, pemerintah daerah perlu membangun hubungan yang lebih strategis dengan masyarakat perantauan. Perantau jangan hanya dipanggil ketika ada kegiatan seremonial atau penggalangan dana. Mereka harus ditempatkan sebagai mitra pembangunan ekonomi daerah.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan PDRB. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pertumbuhan itu menciptakan lapangan kerja? Apakah pendapatan petani meningkat? Apakah UMKM berkembang? Apakah generasi muda memperoleh pekerjaan yang layak? Apakah nagari menjadi lebih produktif?
Sumatera Barat membutuhkan resolusi pembangunan: dari ekonomi konsumsi menuju ekonomi produksi; dari bahan mentah menuju hilirisasi; dari pariwisata berbasis kunjungan menuju pariwisata berbasis nilai tambah; dari APBD sebagai sumber utama pembangunan menuju APBD sebagai pengungkit investasi; dan dari pembangunan yang reaktif terhadap bencana menuju pembangunan yang tangguh terhadap bencana.Persoalan Sumatera Barat bukan kekurangan potensi. Tantangannya adalah bagaimana potensi dikonversi menjadi produktivitas, produktivitas menjadi pertumbuhan, dan pertumbuhan menjadi kesejahteraan.
Karena itu, Sumbar membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya mampu mengelola pemerintahan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang produktif, tangguh dan berkelanjutan.
Sumatera Barat tidak membutuhkan sekadar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sumbar membutuhkan pertumbuhan yang inklusif, berkualitas, tahan terhadap bencana, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat. (***)
Editor : Editor