Oleh: Irdam Imran, Mantan Birokrat Parlemen Senayan
Kolaborasi Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia dalam The 8th International Conference on Culinary, Fashion, Beauty and Tourism (ICCFBT) & The 8th International Hospitality and Tourism Conference (IHTC) 2026 membuka ruang refleksi tentang masa depan pariwisata Minangkabau. Sebagaimana disoroti dalam unggahan Instagram Irman Gusman, kerja sama akademik lintas negara tersebut membawa pesan penting: pariwisata seharusnya tidak berhenti pada promosi destinasi, tetapi menjadi jalan menuju kesejahteraan masyarakat dan pelestarian budaya.
Bagi Sumatera Barat, pariwisata bukan sekadar urusan pemandangan alam, kuliner, atau keindahan bangunan tradisional. Pariwisata merupakan pertemuan antara kekayaan alam, identitas budaya, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi. Tantangannya ialah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola agar memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Dari Destinasi Menuju Ekonomi Rakyat
Sumatera Barat memiliki modal pariwisata yang kuat. Bentang alamnya meliputi pantai, danau, pegunungan, lembah, serta kawasan pedesaan yang menyimpan tradisi hidup. Kekayaan kuliner, seni pertunjukan, kerajinan, arsitektur rumah gadang, dan tradisi adat merupakan daya tarik yang tidak dapat dipisahkan dari identitas Minangkabau.
Namun, potensi besar tidak otomatis menjamin kesejahteraan. Ramainya kunjungan wisatawan belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan warga. Pertanyaan mendasarnya adalah siapa yang memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata tersebut.
Jika rantai usaha pariwisata lebih banyak dikuasai pelaku bermodal besar, sedangkan masyarakat lokal hanya menjadi pekerja berupah rendah, pertumbuhan pariwisata belum sepenuhnya menjadi pembangunan yang inklusif.
Karena itu, pengembangan pariwisata Minangkabau perlu menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. UMKM kuliner, pengrajin, seniman tradisional, petani, pengelola homestay, pemandu wisata lokal, dan kelompok sadar wisata harus memperoleh akses terhadap pelatihan, pembiayaan, pemasaran digital, serta jaringan pasar yang lebih luas.Pemerintah daerah juga perlu memastikan pembangunan destinasi disertai infrastruktur memadai, transportasi yang terjangkau, kebersihan lingkungan, sanitasi, keamanan, dan tata kelola yang transparan. Ukuran keberhasilan tidak cukup berupa peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga pertumbuhan pendapatan warga, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan usaha lokal.
Adat dan Budaya sebagai Fondasi
Dalam konteks Minangkabau, pariwisata memiliki dimensi yang lebih dalam karena berhubungan dengan adat dan agama. Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dapat menjadi landasan etis untuk membangun pariwisata yang menghormati martabat manusia, menjaga lingkungan, serta memelihara warisan budaya.
Adat bukan sekadar ornamen untuk menarik wisatawan. Ia merupakan sistem nilai yang hidup dalam masyarakat, tercermin dalam musyawarah, hubungan kekerabatan, penghormatan terhadap tamu, dan tanggung jawab kolektif menjaga nagari.
Editor : Editor