Oleh: Kevin Philip, Mahasiswa Megister Ilmu Politik Universitas Andalas
Di sebuah kampung di jantung Sumatera Barat, gonjong rumah gadang masih menjulang seperti sedia kalaempat sudut atapnya menusuk langit, simbol dari filosofi alam takambang jadi guru yang telah berusia berabad-abad. Namun di dalam saku setiap orang yang lewat di bawah bayangannya, tersimpan sebuah layar kecil yang menyiarkan realitas yang jauh berbeda. Beberapa waktu lalu, sebuah video siaran langsung dari seorang kreator digital asal ranah ini menjadi viral dan memantik amarah publik: dalam sesi tayangan yang dilangsungkan demi mengejar hadiah virtual dan visibilitas algoritmik, sang penampil melontarkan makian kasar berbahasa daerah dan mengeluarkan ekspresi vokal yang provokatif, jauh dari citra kesantunan yang selama ini dilekatkan pada perempuan Minangkabau. Video itu menyebar dalam hitungan jam, dibagikan bukan sebagai keprihatinan, melainkan sebagai hiburan ditonton, ditertawakan, dan dijadikan bahan lelucon di lini masa.
Ironi ini terlalu tajam untuk diabaikan. Di satu sisi berdiri rumah gadang, arsitektur yang mengabadikan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullahsebuah konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai BundoKanduang, limpapeh rumah nan gadang, tiang tengah yang menyangga seluruh martabat kaum. Di sisi lain, muncul sosok di layar kaca yangdidorong oleh logika ekonomi yang sama sekali asing bagi filosofi tersebutrela menanggalkan seluruh lapis kehormatan diri demi satu variabel tunggal: atensi. Antara dua kutub ini, terbentang jarak yang bukan sekadar generasional, melainkan jarak peradaban. Dan di jarak itulah, izinkan saya mengajak pembaca menyelami sebuah pertanyaan yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar "mengapa ia melakukannya": mengapa struktur sosial yang mengaku menjaga marwah perempuan Minang justru gagal mencegahnya, dan bahkan lebih menyakitkan, ikut menikmati keruntuhannya sebagai tontonan?
Tubuh sebagai Etalase: Ekonomi Kapitalis Digital dan Logika Nilai Tukar
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu meminjam kerangka lama yang ternyata masih sangat relevan: konsep nilai guna (usevalue) versus nilai tukar (exchangevalue) yang pernah dirumuskan dalam kritik ekonomi-politik klasik. Dalam masyarakat tradisional, tubuh dan perilaku perempuan Minangkabau memiliki nilai guna yang melekat pada fungsi sosialnyasebagai penjaga sako dan pusako, sebagai pengelola rumah gadang, sebagai simbol kesinambungan garis matrilineal. Nilainya bersifat kualitatif, terikat pada makna dan peran.
Ekonomi digital membalik logika ini secara total. Di platform siaran langsung, tubuh dan ekspresi diri diubah menjadi komoditas dengan nilai tukar yang sangat literal: setiap gestur, setiap kata, setiap desahan dapat dikonversi menjadi koin virtual, lalu diuangkan menjadi rupiah. Ini bukan metaforaini adalah arsitektur bisnis yang riil. Platform-platform tersebut dirancang dengan algoritma yang tidak memiliki kompas moral; ia hanya mengenali satu bahasa, yaitu engagement. Semakin provokatif konten, semakin tinggi durasi tonton, semakin besar pula distribusinya. Dalam logika ini, kesantunan adalah kerugian kompetitif, sementara transgresi adalah keunggulan kompetitif.
Yang terjadi kemudian adalah apa yang oleh para sosiolog kontemporer disebut sebagai self-commodificationkomodifikasi diri. Ini berbeda dari eksploitasi yang dilakukan pihak eksternal terhadap seseorang; ini adalah kondisi di mana subjek, atas nama agensi dan atas nama bertahan hidup secara ekonomi, menjadi pelaku sekaligus objek dari eksploitasinya sendiri. Sang penampil dalam kasus ini bukanlah korban tunggal dari sebuah sistem yang memaksanya secara langsung, melainkan aktor yang beroperasi rasional di dalam struktur insentif yang telah dirancang sedemikian rupa oleh kapitalisme platform untuk menghadiahi kevulgaran dengan uang tunai. Inilah yang membuat persoalan ini jauh lebih rumit daripada sekadar "kebejatan moral individu". Ia adalah gejala dari sebuah sistem ekonomi yang telah berhasil menembus ruang paling privat manusiarasa maludan mengubahnya menjadi barang dagangan.Pertanyaannya kemudian bergeser dari "siapa yang salah" menjadi "struktur insentif macam apa yang membuat penggadaian marwah menjadi pilihan rasional secara ekonomi?" Jawabannya menohok: ketika kesenjangan ekonomi struktural bertemu dengan platform yang menjanjikan pendapatan instan tanpa modal selain tubuh dan keberanian menabrak tabu, maka bagi sebagian orang, kalkulasi untung-rugi akan selalu condong ke arah transgresi. Di sinilah kapitalisme digital menunjukkan wajah aslinya yang paling telanjang: ia tidak peduli pada falsafah adat, pada ABS-SBK, atau pada konseprasojopareso. Ia hanya peduli pada watchtime.
Desensitisasi Kolektif: Ketika Rasa Malu Kehilangan Fungsi Sosialnya
Namun akan naif jika kita berhenti pada analisis ekonomi semata, seolah-olah persoalan ini murni soal insentif finansial individu. Ada dimensi kedua yang jauh lebih mengkhawatirkan: pergeseran ambang batas kepatutan kolektif, atau yang dalam kajian psikologi sosial disebut sebagai desensitisasi.
Falsafah Minangkabau mengenal konsep rasojoparesorasa dan periksasebuah mekanisme kepekaan sosial berlapis yang mengatur bagaimana seseorang harus bersikap, berbicara, bahkan berjalan di ruang publik, disesuaikan dengan siapa lawan bicaranya dan di ruang mana ia berada. Ini adalah teknologi sosial yang sangat canggih, hasil endapan kearifan berabad-abad, yang berfungsi sebagai rem otomatis terhadap perilaku yang berlebihan. Masalahnya, rem ini dirancang untuk ruang fisik, untuk tatap muka, untuk komunitas yang saling mengenal dan saling mengawasi. Ia tidak pernah dirancang untuk menghadapi ruang digital yang anonim, tanpa batas geografis, dan tanpa konsekuensi sosial yang segera dirasakan.
Di ruang digital, pelaku tidak sedang berhadapan dengan mamak, dengan alim ulama, atau dengan tetangga yang akan menegurnya esok pagi di lapau. Ia berhadapan dengan layar kaca yang dingin, dengan angka-angka penonton yang abstrak, dan dengan komentar-komentar yang datang dari orang-orang tak dikenal yang justru memberi hadiah, bukan teguran, atas perilaku yang seharusnya memalukan. Dalam kondisi ini, mekanisme rasojopareso kehilangan objeknya. Ia menjadi rem tanpa jalan, kompas tanpa medan magnet.
Editor : Editor