Kapitalisme Atensi dan Matinya Rasa Malu Di Tanah Beradat

Kevin Philip, Mahasiswa Megister Ilmu Politik Universitas Andalas. (Foto: Ist)
Kevin Philip, Mahasiswa Megister Ilmu Politik Universitas Andalas. (Foto: Ist)

Cermin yang Enggan Kita Tatap

Video yang viral itu, pada akhirnya, bukanlah anomali. Ia adalah cermindan cermin yang jujur selalu menyakitkan untuk ditatap. Ia memantulkan wajah kita semua: masyarakat yang gemar mengutuk di ruang komentar namun lupa menegur di ruang nyata; institusi adat yang sibuk menjaga simbol-simbol seremonial namun alpa membangun benteng etika digital; keluarga yang menyerahkan pengasuhan moral kepada algoritma sejak dini demi ketenangan sesaat; dan sistem pendidikan yang mencetak generasi fasih berteknologi namun rapuh secara batin.

Kita bisa saja menghukum satu wajah di layar kaca, menghapus satu akun, memadamkan satu siaran. Namun selama logika ekonomi kapitalis digital tetap menghadiahi transgresi dengan atensi dan rupiah, selama ambang kepatutan kolektif kita terus terkikis tanpa disadari, dan selama Tigo Tungku Sajarangan terus berdiam diri menunggu krisis berikutnya untuk sekadar bereaksi alih-alih mencegah, maka wajah-wajah baru akan terus bermunculan di layarsatu demi satu, silih berganti, masing-masing membawa serpihan marwah yang sama, digadaikan demi genggaman rupiah digital yang fana.

BundoKanduang bukan sekadar gelar kehormatan yang diwariskan lewat garis keturunan. Ia adalah tanggung jawab kolektif yang harus terus-menerus dijaga, dirawat, danbila perludiperjuangkan ulang di setiap generasi dan di setiap medan baru yang muncul. Jika hari ini kita hanya sanggup marah pada layar kaca tanpa berani menatap cermin yang ia pantulkan, maka jangan heran bila kelak rumah gadang hanya akan tersisa sebagai latar foto wisatamegah dari luar, namun kosong dari falsafah yang dulu menghidupinya. Pertanyaannya bukan lagi apakah keruntuhan ini akan terjadi. Pertanyaannya adalah: berapa banyak lagi wajah yang harus kita korbankan sebagai tumbal viralitas, sebelum kita sungguh-sungguh bergerak menyalakan kembali api di ketiga tungku itu? (***)

Editor : Editor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini