Yang lebih mencemaskan, fenomena ini tidak berdiri sendiri di ruang maya. Ia menemukan padanannya di ruang luring: maraknya pertunjukan orgen tunggal dengan biduan yang menampilkan goyangan dan lirik-lirik yang jauh dari kepatutan di tengah keramaian publik, di halaman masjid, di pesta pernikahan, bahkan berdekatan dengan acara adat itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa yang sedang terjadi bukanlah persoalan teknologi digital semata, melainkan pergeseran ambang kepatutan yang telah merambah dua ruang sekaligusmaya dan nyata. Digital hanya mempercepat dan memperbesar gejala yang sesungguhnya sudah lama bersemayam.
Inilah yang oleh para pemikir budaya disebut sebagai normalisasi transgresi: apa yang dulu memicu rasa malu kolektif, kini memicu decak kagum, tawa, bahkan pujian atas keberanian. Publik yang menonton, membagikan, dan menertawakan video-video semacam ini sesungguhnya adalah bagian dari mesin yang sama yang mereka kutuk. Setiap tayangan ulang, setiap tangkapan layar yang disebarkan dengan dalih "mengecam", pada kenyataannya memberi bahan bakar tambahan bagi algoritma yang justru menghadiahi viralitasterlepas dari apakah viralitas itu berbentuk pujian atau kecaman. Ironi tak terhindarkan: masyarakat yang paling keras mengutuk kemerosotan moral ini, seringkali adalah masyarakat yang paling aktif mengklik, menonton ulang, dan memperpanjang usia edar video tersebut di linimasa mereka sendiri.
Kealpaan Institusi: Ketika Tigo Tungku Sajarangan Kehilangan Api
Sampai di titik ini, kita telah membedah dua lapis persoalanekonomi dan kultural. Namun lapis ketiga inilah yang barangkali paling menohok, karena ia mengarahkan cermin bukan kepada sang penampil, melainkan kepada kita semua yang mengaku sebagai penjaga adat.
Minangkabau memiliki struktur kepemimpinan sosial yang khas dan telah teruji sejarah: Tigo Tungku SajaranganNiniak Mamak yang menjaga adat dan struktur kekerabatan, Alim Ulama yang menjaga syarak dan moralitas keagamaan, serta Cadiak Pandai yang menjaga akal budi dan kemajuan intelektual masyarakat. Ketiganya, dalam idealnya, bekerja sebagai sistem kontrol sosial yang saling menopangtiga batu tungku yang menopang satu periuk bersama, yaitu marwah kolektif masyarakat Minangkabau.
Pertanyaan yang harus kita ajukan dengan jujur: di manakah ketiga tungku ini ketika ruang digital mulai menggerus fondasi yang mereka jaga? Niniak Mamak, yang secara tradisional bertanggung jawab atas perilaku kemenakannya, hari ini seringkali tidak memiliki kapasitas literasi digital untuk memahami, apalagi mengawasi, ruang di mana kemenakannya justru menghabiskan sebagian besar waktu sosialnya. Alim Ulama, yang mimbarnya masih sangat berpengaruh dalam soal moralitas ritual dan ibadah, belum sepenuhnya menjadikan etika digital sebagai medan dakwah yang serius dan berkelanjutanceramah tentang aurat dan kesantunan masih lebih sering ditujukan pada ruang fisik ketimbang ruang siaran langsung yang justru menjangkau ribuan pasang mata setiap harinya. Cadiak Pandai, kaum terpelajar dan cerdik pandai, terlalu sering terjebak dalam wacana akademis yang jauh dari akar rumput, menulis kajian di jurnal-jurnal yang tidak pernah dibaca oleh mereka yang justru paling membutuhkan pencerahan.
Kegagalan ini diperparah oleh institusi lain yang semestinya menjadi tameng pertama: keluarga dan pendidikan formal. Pendidikan moral di sekolah-sekolah kita hari ini terlalu sering berhenti pada hafalan nilai-nilai normatif tanpa pernah benar-benar membekali generasi muda dengan daya kritis untuk menavigasi godaan ekonomi platform digital. Tidak ada kurikulum yang secara serius mengajarkan bagaimana algoritma bekerja, bagaimana ia dirancang untuk mengeksploitasi kerentanan psikologis dan ekonomi penggunanya, dan bagaimana seseorang bisa menjadi korban sekaligus pelaku dalam sistem yang sama. Anak-anak Minangkabau hari ini fasih menggunakan aplikasi siaran langsung jauh sebelum mereka memahami konsekuensi jangka panjang dari setiap detik yang mereka pertontonkan kepada dunia.Maka ketika publik ramai-ramai menuding sang penampil sebagai aib tunggal yang mencoreng nama baik ranah, sesungguhnya kita sedang melakukan apa yang dalam ilmu politik disebut sebagai scapegoatingmengalihkan tanggung jawab struktural kepada satu individu yang paling mudah dijadikan sasaran kemarahan kolektif, sembari membebaskan diri kita sendiri, institusi kita sendiri, dan sistem yang kita biarkan bertumbuh tanpa pengawasan, dari segala bentuk introspeksi. Ini adalah bentuk kemunafikan sosial yang paling nyaman: menghukum simtom, sambil membiarkan penyakitnya terus menjalar.
Falsafah yang Kehilangan Penjaga
ABS-SBK bukanlah sekadar slogan yang dipahat di gerbang masuk kota atau dicetak di kop surat pemerintahan daerah. Ia adalah sebuah sistem etika yang lahir dari dialektika panjang antara adat lokal dan ajaran Islam, sebuah upaya untuk menyeimbangkan hukum adat dengan hukum syariat dalam satu tarikan napas kehidupan bermasyarakat. Falsafah ini pernah menjadi salah satu sistem sosial paling maju di Nusantara dalam hal pengaturan hubungan antara individu, keluarga besar, dan komunitas.
Tetapi falsafah, seagung apa pun rumusannya, hanya hidup selama ada institusi yang menegakkannya dengan konsisten, dan hanya relevan selama ia mampu beradaptasi dengan medan pertempuran yang baru. ABS-SBK dirumuskan pada zaman ketika ruang publik masih dapat diawasi secara langsung, ketika reputasi seseorang bergantung pada penilaian tetangga dan kerabat yang mengenalnya seumur hidup. Ia belum pernah diuji menghadapi ruang tanpa batas, tanpa wajah, tanpa konsekuensi sosial yang segera, seperti yang ditawarkan oleh platform digital hari ini.
Kegagalan bukan terletak pada falsafahnyaABS-SBK tetap merupakan kerangka etis yang kokoh dan relevan. Kegagalan terletak pada kelambanan para penjaganya untuk menerjemahkan falsafah tersebut ke dalam bahasa dan medan yang baru. Selama Tigo Tungku Sajarangan masih berpikir bahwa ancaman terhadap marwah Minangkabau hanya datang dari luardari budaya asing, dari pengaruh Barat yang datang secara fisik dan gagal menyadari bahwa ancaman paling nyata hari ini justru datang dari dalam saku setiap anak kemenakan mereka sendiri, dalam bentuk aplikasi yang mereka unduh dengan sukarela, maka falsafah seagung apa pun hanya akan menjadi museum nilai yang indah dipandang namun tak lagi berfungsi.
Editor : Editor