Sialang Batu Limapuluh Kota: Viral 9 Tahun

Ngarai Sialang Batu di Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota. (Foto: Ist)
Ngarai Sialang Batu di Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota. (Foto: Ist)

Tetapi pelajaran paling berguna justru datang dari Nglanggeran. Desa itu memulai pada 1999 dengan menghijaukan 48 hektare lahan gersang. Yang membesarkannya bukan tiket, melainkan rantai nilai. Sebanyak 24 kepala keluarga dibantu menjadikan rumah mereka homestay dengan nilai investasi Rp1,5 miliar. Sekitar 96 petani dilatih mengolah kakao. Harga kakao fermentasi yang semula Rp25.000 per kilogram naik menjadi Rp100.000 setelah diolah.

Empat kali lipat, dari komoditas yang sama.

Intinya bukan menambah jumlah pengunjung. Intinya menahan mereka lebih lama dan menyentuh lebih banyak mata rantai.

Bila ukuran itu yang kita pakai, Sialang sebenarnya punya bahan yang cukup. Sialang Batu bukan atraksi tunggal. Di nagari yang sama ada Pantai Lubna berupa hamparan pasir tepi sungai, Ompang Godang yang jadi tempat mandi warga, dan kebun gambir yang siap dijadikan agrowisata. Ada pula tradisi Jalang Manjalang setiap selesai Idulfitri yang menurut catatan nagari berlangsung sejak 1918.

Gambir adalah kekuatan yang belum dipakai. Kapur IX penghasil gambir terluas di kabupaten dengan 5.682 hektare. Warga menyebutnya emas cokelat. Sekitar 87 persen penduduk usia produktif di sana adalah petani.

Tidak jauh dari situ ada Batu Hidung dengan tebing setinggi 35 meter dan air kehijauan yang membuatnya dijuluki Green Canyon. Sungai Batang Kapur yang mengalir di bawahnya dulu adalah jalur dagang emas, gambir, dan karet, menyambung ke arah Candi Muara Takus di Riau.

Satu hal lagi yang sering terlewat. Kapur IX berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Dari Padang jaraknya 226 sampai 250 kilometer dengan waktu tempuh lima sampai enam jam. Kapur IX bukan pedalaman, melainkan beranda. Pasar alaminya adalah Pekanbaru.

Persoalannya ada pada cara menjual. Saat ini Nagari Sialang menawarkan sewa ATV, sampan tradisional, area berkemah, dan kunjungan kebun gambir dengan harga Rp5.000 sampai Rp250.000. Semuanya dijual terpisah dan homestay yang terdaftar masih nol. Orang datang pagi, pulang sore.

Yang dibutuhkan adalah paket utuh dua hari satu malam. Sebut saja Sungai, Gambir, dan Batu.

Sore hari tamu tiba dan menginap di rumah warga dengan masakan nagari. Malamnya mendengar cerita Jalang Manjalang. Pagi berikutnya, turun ke kebun gambir, menikmati the daun gambir, ikut memasak getah sampai menjadi kepingan, lalu membawanya pulang. Siangnya menyusuri sungai dengan sampan menuju Sialang Batu dan Batu Hidung. Diakhir kegiatan, pengunjung disuguhi oleh oleh dan kerajinan tangan khas daerah.

Editor : Editor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini