Sialang Batu Limapuluh Kota: Viral 9 Tahun

Ngarai Sialang Batu di Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota. (Foto: Ist)
Ngarai Sialang Batu di Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota. (Foto: Ist)

Untuk pasar Pekanbaru, paket tiga hari bisa disambung sampai Candi Muara Takus.

Selisih nilainya jauh lebih besar dari yang diduga. Mari berhitung kasar, sekedar untuk melihat arah.

Pengunjung sehari hanya membelanjakan parkir dan jajan, katakanlah Rp25.000 per orang. Bila setahun ada 20.000 kunjungan, uang yang berputar sekitar Rp500 juta.

Dengan paket menginap, belanja per orang bisa mencapai Rp300.000. Jumlah kunjungan yang sama menghasilkan Rp6 miliar. Selisihnya Rp5,5 miliar setahun, tanpa menambah satu pun pengunjung.

Uang itu tidak masuk ke satu kasir. Ia tersebar ke pemilik rumah, juru masak, pemilik sampan, pemandu, petani gambir, dan tukang ojek. Bila 100 rumah tangga terlibat, tambahannya sekitar Rp55 juta per rumah tangga setahun.

Angka ini simulasi, bukan janji. Tetapi arahnya jelas. Yang perlu dinaikkan adalah belanja per orang, bukan jumlah orang.

Pekerjaan sebesar itu tentu tidak bisa dikerjakan satu pihak. Pemerintah kabupaten memegang kunci pertama, yaitu tata ruang hulu sungai. Kapur IX menyimpan potensi batu bara, marmer, serta galian golongan C. Seluruh pesona Sialang Batu bertumpu pada air yang tetap jernih. Bila hulunya keruh, destinasi ini selesai sebelum tumbuh. Ini keputusan tata ruang, bukan urusan promosi.

Pemerintah nagari perlu melegalkan rumah warga menjadi homestay dan menegakkan standar keselamatan sungai berupa pelampung, pemandu bersertifikat, dan protokol banjir kiriman.

BUMNag Sialang Sakato harus naik kelas dari pemungut karcis menjadi pengelola, dengan satu pintu pemesanan dan pembagian hasil yang transparan.

Perbankan dan lembaga pembiayaan bisa masuk lewat kredit ringan untuk homestay. Nglanggeran membuktikan Rp1,5 miliar sudah cukup melahirkan 24 homestay.

Editor : Editor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini