Langkah tersebut bertujuan menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkualitas.
"Pengembangan bisnis tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas dan kesehatan bisnis itu sendiri. Bagi Adhi Karya, yang penting adalah bagaimana peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat core business dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," ujarnya.
Dari sisi kinerja, hingga akhir Agustus 2026 Adhi Karya membukukan kontrak baru sekitar Rp8,9 triliun.
Sebanyak 92 persen dari nilai tersebut berasal dari lini Engineering and Construction yang menjadi tulang punggung bisnis perusahaan.
Saat ini Adhi Karya mengelola sekitar 117 proyek aktif yang tersebar di seluruh Indonesia.
Proyek tersebut mencakup sektor infrastruktur, gedung, perkeretaapian, energi, industri, hingga proyek tanggap darurat di Aceh dan Sumatera Utara.Menurut Moeharmein, fokus perusahaan saat ini adalah memastikan setiap proyek yang diambil sesuai dengan kompetensi perusahaan, memiliki risiko yang terukur, struktur kontrak yang sehat, serta dapat diselesaikan secara optimal.
"Kami tidak hanya fokus mendapatkan kontrak, tetapi juga memastikan proyek dapat dijalankan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan sehingga memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan mendukung pembangunan nasional," katanya. (***)
Editor : Editor