"Seringkali dalam perburuan visual yang dramatis, aturan-aturan dasar penyiaran beresiko terabaikan, oleh karena itu, Bimtek Sekolah P3SPS ini, perlu kepada penguatan dan pemahaman. Kita ingin memastikan setiap tayangan itu memenuhi standar, menghormati hak korban dan keluarga, mencegah kepanikan massa, menjunjung hak anak dan kelompok rentan serta fungsi edukasi dan mitigasi," kata Yusrin.
Jurnalis tidak cukup hanya menyampaikan kejadian dan dampaknya, tetapi juga perlu mempertimbangkan cara informasi disajikan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh.
Ketua Umum IJTI Pusat, Herik Kurniawan, menilai Bimtek Sekolah P3SPS mempunyai nilai strategis bagi jurnalis televisi. Pemahaman terhadap aturan penyiaran perlu berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik dan ketentuan hukum yang mengatur kerja pers.
Herik menjelaskan bahwa terdapat sejumlah prinsip dalam P3SPS yang sejalan dengan Kode Etik Jurnalistik dan Kode Etik IJTI. Namun, hubungan antara aturan penyiaran dan kebebasan pers juga kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan jurnalis.
"Sekolah P3SPS ini merupakan hal yang sangat strategis, ada banyak hal yang ada di dalam P3SPS, yang sebetulnya selaras dengan Kode Etik Jurnalistik di dalam Undang-undang (UU) Pers nomor 40 tahun 1999 dan Kode Etik IJTI yang kami pahami semua," katanya.
Ia menyinggung persoalan mengenai kemungkinan pertentangan antara P3SPS dan Undang-undang Pers. Menurutnya, pengawasan terhadap program siaran dan penanganan persoalan etik jurnalistik berada dalam ranah yang berbeda."Seringkali ada persoalan, apakah P3SPS ini bertabrakan dengan UU Pers. Karena KPI hanya mengawasi program, tidak masuk ke dalam ranah etik, karena etik masuk ke dalam ranah Dewan Pers," kata Pemimpin Redaksi (Pemred) RCTI dan GTV tersebut.
Dalam pandangannya, tantangan jurnalisme tidak terbatas pada bencana alam. Sumatera Barat yang berada di kawasan Ring of fmFire menghadapi berbagai persoalan, sementara ancaman terhadap ruang informasi juga berkembang melalui media sosial dan penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.
"Terkait kebencanaan, tergantung bagaimana cara kita memandang, Sumbar ini memang masuk dalam ring of fire, tapi fire-nya sangat banyak, bukan hanya geologis, kultural, budaya, geopolitik," katanya.
Herik kemudian menganalogikan pekerjaan jurnalis dengan pemadam kebakaran. Analogi tersebut menggambarkan kebutuhan untuk merespons penyebaran informasi bermasalah sejak awal, sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih luas di tengah masyarakat.
Editor : Editor