Berdamailah dengan Corona!!!

Adrian Tuswandi, sapaan keren Toaik, wartawan sekaligus owner media online, pemerhati media online dan soaial, sekarang menjabat Wakil Ketua Komisi Informasi Sumbar. (foto: dok)
Adrian Tuswandi, sapaan keren Toaik, wartawan sekaligus owner media online, pemerhati media online dan soaial, sekarang menjabat Wakil Ketua Komisi Informasi Sumbar. (foto: dok)

Oleh : Adrian ToaikPRESIDEN RI Joko Widodo mengajak masyarakat berdamai dengan Coranavirus.

Ajakan Presiden langsung menimbulkan pro dan kontra, tapi untuk tidak salah memaknai Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan ajakan Presiden RI tersebut seperti dilansir diberbagai media nasional yaitu masyarakat dapat mencegah penularan COVID-19 meski antivirus belum ditemukan. Frasa 'hidup berdamai' diartikan sebagai penyesuaian baru dalam tatanan kehidupan.COVID-19 memang belum ada antivirusnya, tapi kita bisa mencegah tertular COVID-19. Ya artinya jangan kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal, tatanan kehidupan baru, itulah penjelasan Bey.

Dari padanan kata berdamai ternyata itu maknanya dalam, Presiden dan seluruh jajaran hingga ke daerah sudah maksimal berbuat untuk menghempang penyerbaran Covid-19. Tak hanya pemerintah berbagai elemen pun urung-rembuk bergerak bersama dalam aksi serempak.Protokol Kesehatan menjadi paswor ampuh sebagai penangkal virus ke seluruh jiwa masyarakat Indonesia.

Virus belum ada anti virusnya terus apakah kita berheni total jalani kehidupan normal.Terus terang sudah banyak korban dan dana besar untuk menghempang Covid-19. Ratusan triliun rupoah uang negara dan uang publik sudah dikerahkan, bantuan pemerintah berbagai bentuk dalam jaring pengaman sosial mengucur sebagai bukti pemerintah hadir di tengah pandemi yang membuat krisis kebidupan masyarkat se Indonesia.

Memang sih, ngeri-ngeri sedap ajakan berdamai dengan Corona ini di kata anti virusnya belum ada tidak seperti legowonya kita dengan penyakit flu pilek dan demam yang tinggal ke apotek beli berbagai merek obat untuk mengobatinya atau berjibun obat herbal mengibatinya, tapi kalu COVID-19 belum ada hingga tiga bukan masa pandemi ini di Indonesia.Tapi di protokol kesehatan, social dan physical distancing, cuci tangan dan selalu pakai masker sebetulnya ini modul ampuh menghentikan penyebaran Covid-19.

Dua bulan bahkan tiga bulan sejak protokol kesehatan berbagai sisi kehidupan diterbitkan pemerintah, mestinya jadi waktu yang cukup bagi masyarakat menjadikannya budaya hidup berbangsa dan bernegara yang baru kedepan, protokol itu legal writennya sementara esensi dari protokol kesehatan itu aktualnya sudah  lama sudah menjadi praktek keseharian banyak orang di republik ini.Bahkan Islam mengantakan Bersih sebagian dari iman, kebersihan dan pola hidup sehat inilah yang membuat coronavirus tak berkutik merengsek kesehatan manusia.

Sekarang bagaimana protokol kesehatan membudaya dan menjadi prilaku keseharian kita sebagai warga negara, patuh dan disiplin terhadap protokol kesehatan Insha Allah Indonesia bisa berdamai dengan Covid-19 seperti bagaimana masyarakat berdamai dengan penyakit infeksi lainnya.Terus kedepan tentu ada banyak protokol yang disiapkan pemerintah untuk memastikan kehidupan normal kembali terjadi di republik ini. Seperti protokol kesehatan berbelanja ke pasar. Protokol kesehatan di dunia pendidikan dan keagamaan dan protokol lain yang kita semua satu tekad menjadikan protokol tertulis itu budaya keseharian baru kita semua.

Ayolah bersahabat dan berdamai dan optimis lah Indonesia kembali hidup normal setelah badai corona menekang masuk bulan ke tiga sejak kasus pertama positif diumumkan Presiden 2 Maret lalu.(analisa)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini